Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Agustus 2025 | 04.29 WIB

Orang yang Kehilangan Minat Mengikuti Tren Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi

seseorang yang kehilangan minat mengikuti tren. (Freepik/EyeEm) - Image

seseorang yang kehilangan minat mengikuti tren. (Freepik/EyeEm)


JawaPos.com - Dalam dinamika kehidupan modern yang serba cepat, tren datang dan pergi seperti gelombang yang tak pernah berhenti. 
 
Namun, seiring bertambahnya usia, tidak sedikit orang yang secara alami mulai kehilangan ketertarikan untuk mengikuti arus tren yang sedang populer. 
 
Fenomena ini bukan sekadar masalah “gap generasi”, melainkan mencerminkan perubahan psikologis yang mendalam.

Dilansir dari Geediting pada Sabtu (2/8), menurut psikologi perkembangan dan perilaku, individu yang mulai menjauh dari tren-tren baru cenderung menunjukkan 7 perilaku khas berikut ini:

1. Meningkatnya Fokus pada Nilai dan Prinsip Pribadi

Ketika seseorang memasuki fase usia matang, mereka cenderung memiliki nilai-nilai dan prinsip hidup yang sudah teruji oleh pengalaman. 
 
Orang seperti ini lebih memprioritaskan keaslian diri daripada citra yang dibentuk oleh tren. 
 
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai self-congruence—kebutuhan untuk bertindak selaras dengan identitas pribadi daripada tekanan eksternal.

Mereka mulai bertanya: "Apakah ini benar-benar saya?" dibandingkan "Apakah ini sedang tren?"

2. Selektif dalam Konsumsi Informasi

Orang yang kehilangan minat pada tren biasanya menjadi lebih selektif terhadap informasi yang mereka konsumsi. 
 
Mereka tidak lagi merasa perlu mengikuti setiap berita viral, challenge TikTok, atau gaya fashion terbaru. 
 
Ini berkaitan dengan cognitive filtering, yaitu kemampuan menyaring informasi yang relevan dan bermakna bagi diri sendiri.

Mereka lebih memilih mendalami topik yang sesuai dengan minat jangka panjang, bukan sekadar hal yang sedang ramai dibicarakan.

3. Mencari Kualitas, Bukan Kuantitas dalam Interaksi Sosial

Seiring usia bertambah, kebutuhan untuk “diakui” oleh lingkungan sosial cenderung menurun. 
 
Orang mulai mencari hubungan yang bermakna daripada sekadar banyaknya interaksi. 
 
Ini selaras dengan teori socioemotional selectivity, yang menyatakan bahwa individu dewasa lebih memprioritaskan hubungan yang mendalam ketimbang luasnya jaringan sosial.

Alih-alih mengejar “likes” dan validasi sosial, mereka lebih menikmati percakapan intim yang bernilai.

4. Lebih Nyaman dengan Rutinitas dan Kenyamanan Pribadi

Mengikuti tren seringkali menuntut seseorang keluar dari zona nyaman. 
 
Namun, individu yang lebih tua biasanya merasa lebih puas dengan rutinitas yang stabil dan gaya hidup yang familiar. 
 
Dalam psikologi, ini disebut sebagai comfort zone consolidation, di mana kenyamanan pribadi diutamakan dibandingkan pencarian sensasi baru.

Mereka lebih memilih kenyamanan “pakaian favorit” daripada mengikuti gaya yang sedang hype.

5. Memiliki Perspektif Panjang terhadap Perubahan

Orang yang kehilangan minat pada tren umumnya memiliki perspektif jangka panjang. 
 
Mereka memahami bahwa tren bersifat siklus dan sementara. 
 
Oleh karena itu, mereka tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan yang dianggap “sementara”. 
 
Ini berkaitan dengan time perspective theory yang menunjukkan pergeseran fokus dari “present-oriented” ke “future-oriented” atau bahkan “life-oriented”.

Mereka berpikir, “Nanti juga ini bakal basi lagi, sama seperti yang dulu-dulu.”

6. Menghargai Keunikan Diri Sendiri

Di usia yang lebih matang, seseorang biasanya mulai mengapresiasi keunikan dirinya sendiri. 
 
Mereka lebih nyaman menjadi berbeda daripada menjadi bagian dari “massa”. 
 
Fenomena ini disebut individuation, sebuah fase di mana individu merayakan identitas pribadinya dan melepaskan diri dari tekanan homogenisasi sosial.

Mereka sadar bahwa keaslian diri lebih bernilai daripada menjadi “seperti orang lain”.

7. Tidak Lagi Memandang Tren Sebagai Tolok Ukur Status Sosial

Ketika masih muda, tren sering kali dianggap sebagai indikator status sosial atau “keren tidaknya” seseorang. 
 
Namun, bagi orang yang sudah dewasa secara psikologis, hal tersebut tidak lagi relevan. 
 
Mereka menilai status sosial bukan dari apa yang dikenakan atau diikuti, melainkan dari kontribusi nyata, pencapaian pribadi, atau kebahagiaan batin.

“Saya tidak butuh mengikuti tren untuk dihormati,” begitu prinsip yang mulai tertanam kuat.

Penutup: Ini Bukan Anti-Tren, Tapi Evolusi Psikologis

Penting untuk dicatat bahwa kehilangan minat terhadap tren bukan berarti seseorang menjadi ketinggalan zaman atau “anti-sosial”. 
 
Sebaliknya, ini adalah fase perkembangan psikologis yang sehat di mana seseorang memilih untuk hidup lebih otentik, selektif, dan bermakna.

Fenomena ini justru menunjukkan kedewasaan mental dan kematangan identitas diri. 
 
Pada akhirnya, mengikuti atau tidak mengikuti tren adalah pilihan pribadi, namun yang pasti, mereka yang memilih jalan ini umumnya lebih damai dengan dirinya sendiri.
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore