Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 Juli 2025 | 17.42 WIB

Gadis Remaja Semakin Rapuh karena Media Sosial? Begini Caranya Membantu Mereka Pulih dan Percaya Diri Lagi

Ilustrasi gadis remaja (freepik) - Image

Ilustrasi gadis remaja (freepik)

JawaPos.com - Di era digital yang serbacepat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja. 

Namun, di balik kilauan unggahan yang tampak sempurna, tersembunyi tekanan psikologis yang dalam, terutama bagi para gadis remaja. 

Mereka menghadapi tuntutan untuk selalu tampil ideal, diterima secara sosial, dan merasa cukup di tengah derasnya arus perbandingan sosial.

Banyak orang tua tidak menyadari betapa kuatnya pengaruh dunia maya dalam membentuk citra diri dan emosi anak perempuan mereka. 

Sering kali, media sosial menciptakan ilusi bahwa validasi eksternal lebih penting daripada keaslian diri. 

Akibatnya, banyak remaja perempuan yang tumbuh dalam kecemasan, kelelahan mental, dan perasaan rendah diri yang tak terungkapkan.

Artikel ini menguraikan bagaimana media sosial dan tekanan budaya dapat melemahkan mental gadis remaja, serta memberikan strategi praktis bagi Anda orang tua, guru, atau pendamping untuk membantu mereka membangun kembali kepercayaan diri dan menemukan kembali kegembiraannya.

Simak pemaparannya yang dilansir dari Psychology Today pada Rabu (16/07).

1. Media Sosial Memperkuat Perasaan Tidak Cukup dan Penolakan Sosial

Remaja perempuan saat ini menghadapi tekanan luar biasa dari media sosial yang terus memunculkan standar kecantikan dan kesuksesan yang tidak realistis. 

Mereka dihadapkan pada banjir gambar sempurna, jumlah suka, dan komentar yang membuat mereka terus-menerus merasa kurang layak. 

Ketika validasi datang dari layar, harga diri pun menjadi rapuh.

Penolakan sosial yang dialami pun bukan lagi dalam bentuk nyata, tetapi digital dari tidak diundang dalam unggahan grup, tidak mendapat cukup “like,” hingga tak dibalasnya pesan oleh teman sebaya. 

Penolakan ini terekam dalam memori mereka dan sering kali lebih menyakitkan karena sifatnya yang publik dan berulang. 

Hal ini menimbulkan tekanan yang konstan pada otak remaja yang sedang berkembang.

Akibatnya, banyak gadis mulai kehilangan rasa percaya pada diri sendiri. 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore