
Ilustrasi otak introvert (freepik)
JawaPos.com - Dicetuskan oleh Carl Jung pada awal abad ke-20, istilah “introversi” dan “ekstroversi” telah memperoleh popularitas yang luas berkat prevalensi teori kepribadian manusia di dunia maya.
Menentukan distribusi pasti kaum introvert dan ekstrovert di seluruh dunia bukanlah hal yang mustahil.
Akan tetapi, beberapa penelitian berspekulasi bahwa kaum introvert mencakup sekitar sepertiga hingga setengah dari populasi dunia, sehingga jumlah mereka cukup merata.
Meski relatif umum, sifat introvert masih sering disalahpahami oleh masyarakat umum, termasuk kaum introvert sendiri. Namun, penelitian ilmiah terkini tidak memiliki kecenderungan yang sama.
Sebaliknya, sejumlah peneliti independen telah menemukan beberapa elemen penting yang diperlukan untuk memahami biologi, sains, dan psikologi di balik introversi dan ekstroversi.
Ternyata, sifat introvert lebih rumit dari sekadar tidak menikmati keramaian. Dilansir dari Astroligion.com, Senin (11/5), inilah lima fakta ilmiah tentang otak introvert yang perlu Anda ketahui.
1. Introversi mengacu pada reaksi terhadap lingkungan
Aspek pertama yang perlu dipahami tentang introversi adalah definisinya. Sering disalahpahami sebagai rasa malu, depresi, kekasaran, atau kecemasan.
Kaum introvert sering menjadi sasaran banyak kesalahpahaman dan stereotip yang hampir tidak ada hubungannya dengan konsep itu sendiri.
Introversi dan ekstroversi, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Carl Jung, adalah tipe kepribadian yang ditentukan oleh sumber utama kepuasan bagi setiap individu.
Dengan demikian, ekstrovert cenderung memfokuskan energi dan minat mereka terhadap dunia luar, sementara introvert lebih suka mengarahkan kehidupan mereka ke dalam, mengarahkan perhatian mereka ke dunia batin mereka.
Oleh karena itu, kaum introvert cenderung merasa dihargai dan terpuaskan oleh aktivitas introspektif dan bersemangat dengan 'waktu sendiri' yang hakiki.
Akan tetapi, aktivitas yang disukai kaum ekstrovert—berinteraksi dengan lingkungan eksternal dan bersosialisasi dalam waktu lama—menguras semangat kaum introvert dan membanjiri indra mereka setelah beberapa waktu, membuat mereka mencari kesendirian untuk beristirahat dan 'mengisi ulang' energi.
2. Kaum introvert dan ekstrovert menyukai sisi yang berbeda dari sistem saraf otonom mereka
Seperti disebutkan di atas, kaum introvert mendapatkan energi dan bersemangat dengan dunia batin mereka dan kelelahan karena interaksi yang lama dengan dunia luar.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
