Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 April 2025 | 02.40 WIB

Generasi Milenial yang Tidak Pernah Lepas dari Persaingan dalam Hidupnya, Biasanya Menunjukkan 7 Kebiasaan Keuangan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang selalu hidup dalam persaingan. (Freepik/wavebreakmedia_micro) - Image

seseorang yang selalu hidup dalam persaingan. (Freepik/wavebreakmedia_micro)

JawaPos.com - Generasi milenial dikenal sebagai generasi yang tumbuh dalam era digital, dengan tantangan ekonomi yang lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya.

Tidak hanya menghadapi biaya hidup yang semakin tinggi, mereka juga harus bersaing dalam dunia kerja yang penuh inovasi serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Dalam situasi seperti ini, kebiasaan keuangan mereka sering kali dipengaruhi oleh tekanan sosial, psikologi kognitif, dan keinginan untuk mencapai kestabilan finansial.

Dilansir dari Small Biz Technology pada Jumat (4/4), terdapat tujuh kebiasaan keuangan yang biasanya dimiliki oleh generasi milenial dalam menghadapi persaingan ketat menurut psikologi.

1. Mengutamakan Pengalaman daripada Aset

Psikologi keuangan menunjukkan bahwa milenial cenderung lebih memilih pengalaman dibandingkan kepemilikan aset fisik.

Ini didukung oleh konsep “experientialism,” yaitu kepercayaan bahwa pengalaman memiliki nilai lebih dibandingkan dengan barang material.

Mereka lebih suka menghabiskan uang untuk perjalanan, konser, atau kegiatan sosial dibandingkan membeli rumah atau mobil.

Ini bisa menjadi keputusan yang bijak jika pengalaman tersebut memberikan manfaat psikologis yang positif, seperti meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan hidup.

Namun, di sisi lain, hal ini bisa membuat mereka kurang mempersiapkan diri untuk investasi jangka panjang.

2. Lebih Suka Penghasilan Fleksibel daripada Pekerjaan Tetap

Generasi milenial lebih tertarik pada fleksibilitas dibandingkan kestabilan keuangan yang ditawarkan pekerjaan tetap.

Mereka tidak segan untuk beralih ke pekerjaan lepas (freelance) atau bisnis digital demi mendapatkan kebebasan dalam mengatur waktu dan gaya hidup.

Dari perspektif psikologi, ini menunjukkan kecenderungan mereka terhadap “autonomy bias,” yaitu preferensi terhadap kebebasan dan kendali atas kehidupan pribadi.

Namun, di sisi lain, ini juga bisa menjadi tantangan karena pekerjaan fleksibel sering kali tidak menawarkan jaminan sosial atau tunjangan pensiun.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore