Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Maret 2025 | 16.17 WIB

Orang-orang yang Tumbuh dengan Perasaan Terus-Menerus Diawasi Sering Kali Berjuang dengan 7 Rasa Tidak Aman Ini di Kemudian Hari Menurut Psikologi

seseorang yang tumbuh dengan perasaan selalu diawasi. (Freepik/EyeEm) - Image

seseorang yang tumbuh dengan perasaan selalu diawasi. (Freepik/EyeEm)

JawaPos.com - Masa kecil membentuk kepribadian dan pola pikir kita di masa dewasa.

Bagi mereka yang tumbuh dengan perasaan terus-menerus diawasi, baik oleh orang tua yang terlalu protektif, lingkungan yang ketat, atau tekanan sosial yang tinggi, pengalaman ini dapat meninggalkan jejak mendalam pada psikologi mereka.

Rasa diawasi yang konstan dapat menanamkan rasa tidak aman yang sulit dihilangkan, memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan orang lain, mengambil keputusan, dan melihat diri sendiri.

Dilansir dari Small Biz Technology pada Rabu (26/3), terdapat tujuh rasa tidak aman yang sering dihadapi oleh orang-orang yang tumbuh dalam kondisi seperti ini menurut psikologi:

1. Rasa Takut Akan Penilaian Orang Lain

Orang yang selalu merasa diawasi sejak kecil sering kali tumbuh dengan ketakutan mendalam terhadap opini orang lain.

Mereka cenderung sangat berhati-hati dalam bertindak, berbicara, atau berpikir karena takut dihakimi atau dikritik.

Ini bisa membuat mereka sulit mengekspresikan diri secara autentik dan sering merasa perlu untuk menyenangkan orang lain agar diterima.

2. Kesulitan Membuat Keputusan Sendiri

Ketika seseorang tumbuh di bawah pengawasan ketat, mereka mungkin terbiasa dengan keputusan yang selalu dibuatkan oleh orang lain—entah itu orang tua, guru, atau figur otoritas lainnya.

Akibatnya, saat dewasa, mereka sering merasa cemas dan ragu dalam mengambil keputusan sendiri karena takut salah atau tidak memenuhi ekspektasi orang lain.

3. Rasa Tidak Pernah Cukup Baik

Perasaan diawasi secara konstan sering kali dikaitkan dengan standar tinggi yang harus dipenuhi.

Jika seseorang selalu dibandingkan dengan orang lain atau sering dikritik atas kesalahan kecil, mereka mungkin akan tumbuh dengan perasaan bahwa mereka tidak pernah cukup baik.

Ini bisa menyebabkan perfeksionisme yang tidak sehat dan kecenderungan untuk terlalu keras pada diri sendiri.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore