
seseorang yang merasa hidupnya tersesat./Freepik/Frolopiaton Palm
JawaPos.com - Ada fase dalam hidup ketika seseorang bangun di pagi hari dengan perasaan kosong.
Rutinitas tetap berjalan, tanggung jawab tetap dipikul, tetapi arah terasa kabur. Banyak orang menyebut kondisi ini sebagai tersesat dalam hidup. Menurut psikologi, rasa tersesat jarang muncul begitu saja saat dewasa.
Ia sering kali berakar dari bagian-bagian diri yang perlahan ditinggalkan sejak masa kanak-kanak—sebagai bentuk adaptasi, perlindungan, atau tuntutan lingkungan.
Tanpa disadari, keputusan-keputusan kecil di usia dini dapat membentuk jarak antara siapa diri kita yang sejati dan siapa diri kita sekarang.
Dilansir dari Geediting pada Sabtu (17/1), terdapat bagian-bagian diri yang sering “ditinggalkan” oleh orang yang merasa kehilangan arah dalam hidup, menurut sudut pandang psikologi.
1. Kepekaan Emosional yang Pernah Dianggap “Terlalu Berlebihan”
Banyak anak tumbuh dengan emosi yang kuat: mudah sedih, mudah senang, mudah tersentuh. Namun ketika lingkungan merespons dengan kalimat seperti “jangan lebay”, “jangan cengeng”, atau “kamu terlalu sensitif”, anak belajar satu hal penting: perasaannya tidak aman untuk ditunjukkan.
Sebagai mekanisme bertahan, kepekaan emosional itu dikubur. Saat dewasa, orang tersebut mungkin tampak kuat dan rasional, tetapi di dalamnya sulit memahami apa yang sebenarnya ia rasakan. Inilah awal keterasingan dari diri sendiri—ketika emosi bukan lagi kompas, melainkan gangguan yang dihindari.
2. Suara Autentik yang Pernah Tidak Didengar
Menurut psikologi perkembangan, anak membutuhkan validasi: didengar, dipahami, dan diakui. Ketika pendapat anak sering dipatahkan, dibandingkan, atau dianggap tidak penting, mereka belajar untuk diam.
Lambat laun, suara autentik itu melemah. Saat dewasa, mereka bingung menentukan pilihan hidup, karier, bahkan hubungan, karena terlalu terbiasa mengikuti ekspektasi orang lain. Rasa tersesat muncul bukan karena kurang pilihan, tetapi karena tidak tahu mana yang benar-benar berasal dari diri sendiri.
3. Rasa Aman untuk Menjadi Diri Sendiri
Lingkungan yang penuh kritik, tuntutan kesempurnaan, atau ketidakstabilan emosional membuat anak mengembangkan false self—topeng kepribadian yang dirancang agar diterima. Mereka belajar menjadi “anak baik”, “anak pintar”, atau “anak kuat”, meskipun itu tidak sepenuhnya mencerminkan diri mereka.
Ketika topeng ini dipakai terlalu lama, seseorang bisa kehilangan kontak dengan jati diri sejatinya. Saat dewasa, muncul perasaan hampa dan pertanyaan eksistensial: “Sebenarnya aku ini siapa?”
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Voli Indonesia Berduka, Mantan Pemain Jakarta Pertamina Enduro Meninggal Dunia
Gratis di YouTube! Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Vietnam di Piala AFF 2026
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Update Kondisi Alex Martins! Dibawa ke Rumah Sakit, Pelatih Persebaya Surabaya Tunggu Kabar Terbaru
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
3 Fakta Respons Kedubes Iran usai Pidato Prabowo soal Nuklir, Tegaskan Programnya Hanya untuk Tujuan
