Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Desember 2025 | 06.16 WIB

Jika Seseorang Menunjukkan 7 Kebiasaan Ini, Kemungkinan Besar Mereka Berpura-pura Lebih Kaya dari yang Sebenarnya Menurut Psikologi

seseorang yang berpura-pura lebih kaya./Freepik/freepik - Image

seseorang yang berpura-pura lebih kaya./Freepik/freepik

JawaPos.com - Di era media sosial dan budaya pamer yang semakin kuat, persepsi tentang “kaya” sering kali tidak lagi selaras dengan realitas. Banyak orang terlihat hidup nyaman, serba mewah, dan seolah tanpa beban finansial.

Namun menurut psikologi sosial, tampilan luar tidak selalu mencerminkan kondisi keuangan yang sesungguhnya.

Faktanya, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sebagian orang justru berusaha terlihat kaya sebagai mekanisme kompensasi—baik untuk menutupi rasa tidak aman, tekanan sosial, maupun kebutuhan akan pengakuan. Menariknya, perilaku ini sering muncul dalam pola-pola tertentu yang berulang.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (24/12), jika seseorang secara konsisten menunjukkan kebiasaan berikut, ada kemungkinan mereka sedang berpura-pura lebih kaya daripada kondisi sebenarnya—bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami dinamika psikologis di baliknya.

1. Terobsesi Menampilkan Barang Bermerek Secara Berlebihan

Orang yang benar-benar mapan secara finansial biasanya tidak merasa perlu terus-menerus menunjukkan merek yang mereka pakai. Sebaliknya, menurut psikologi konsumsi, obsesi pada logo dan merek mahal sering berkaitan dengan kebutuhan validasi eksternal.

Ketika seseorang selalu menonjolkan sepatu, tas, jam, atau gadget bermerek—bahkan dalam situasi yang tidak relevan—itu bisa menjadi sinyal bahwa nilai diri mereka sangat bergantung pada simbol status, bukan stabilitas nyata.

2. Sering Membicarakan Uang dan Gaya Hidup Mewah

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai compensatory signaling. Orang yang merasa kurang dalam satu aspek cenderung lebih vokal membicarakannya.

Jika seseorang sering:

Menyebut nominal harga

Membandingkan gaya hidup

Mengklaim “biasa saja” sambil menyelipkan cerita mahal

itu bisa menjadi upaya tidak sadar untuk meyakinkan orang lain—dan diri sendiri—bahwa mereka berada di kelas ekonomi tertentu.

3. Aktif Pamer di Media Sosial, Tapi Tidak Konsisten di Dunia Nyata

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore