
seseorang yang menua dengan bijaksana./Freepik/freepik
JawaPos.com - Menua adalah proses yang tak terelakkan. Namun, cara seseorang menjadi tua sangat berbeda antara satu individu dengan yang lain.
Ada orang yang semakin bertambah usia justru tampak damai, lapang dada, dan penuh kebijaksanaan. Di sisi lain, ada pula yang semakin sinis, mudah tersinggung, dan menyimpan banyak kepahitan terhadap hidup.
Psikologi modern menegaskan bahwa perbedaan ini bukan semata-mata soal nasib, kesehatan, atau keberuntungan hidup.
Ia sangat dipengaruhi oleh kebiasaan harian kecil yang dilakukan seseorang selama bertahun-tahun. Kebiasaan inilah yang secara perlahan membentuk cara berpikir, cara merespons luka, dan cara memaknai perjalanan hidup.
Orang yang menua dengan bijaksana bukan berarti hidupnya bebas dari penderitaan. Justru sebaliknya—mereka pernah kecewa, gagal, dan terluka.
Namun, alih-alih membiarkan luka itu mengeras menjadi kepahitan, mereka memilih mengolahnya menjadi pelajaran.
Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (20/12), menurut psikologi, terdapat 9 kebiasaan harian yang hampir selalu ditemukan pada orang-orang yang menua dengan tenang, jernih, dan penuh kebijaksanaan.
1. Mereka Menerima Kenyataan Tanpa Terjebak Penyangkalan
Salah satu ciri utama orang yang menua dengan bijaksana adalah kemampuan menerima kenyataan. Mereka tidak menghabiskan energi untuk menyangkal usia, perubahan tubuh, atau fakta bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Psikologi menyebut ini sebagai acceptance, yaitu penerimaan aktif—bukan pasrah, tetapi berdamai. Orang yang memiliki kebiasaan ini tidak berkata, “Hidup saya hancur karena tidak seperti dulu.” Sebaliknya, mereka berpikir, “Hidup berubah, dan saya bisa belajar menyesuaikan diri.”
Penerimaan inilah yang mencegah lahirnya kepahitan kronis.
2. Mereka Merefleksikan Hidup, Bukan Menyesalinya
Orang yang pahit cenderung mengulang-ulang penyesalan. Orang yang bijaksana memilih refleksi. Bedanya tipis, tetapi dampaknya besar.
Refleksi bertanya: “Apa yang bisa saya pelajari?”
Penyesalan bertanya: “Mengapa saya sebodoh itu?”
Secara psikologis, refleksi membantu otak memproses pengalaman sebagai pembelajaran, bukan sebagai hukuman diri. Kebiasaan ini membuat seseorang merasa hidupnya bermakna, bahkan ketika tidak sempurna.

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Ekuador vs Curacao: Alan Franco Sudah Lupakan Kekalahan di Laga Perdana
