Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 Oktober 2025 | 20.32 WIB

7 Cara Membandingkan Diri yang Tidak Sehat Menurut Psikologi dan Mengikis Kebahagiaan

Ilustrasi seseorang sedang melihat ke cermin, namun bayangannya menampilkan citra diri yang kurang dari orang lain, menggambarkan perbandingan yang tidak sehat./Freepik - Image

Ilustrasi seseorang sedang melihat ke cermin, namun bayangannya menampilkan citra diri yang kurang dari orang lain, menggambarkan perbandingan yang tidak sehat./Freepik

JawaPos.com - Mengejar kebahagiaan sejati sering kali terhambat oleh kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain.

Perilaku ini, jika dilakukan terus-menerus, akan menciptakan siklus ketidakpuasan yang tidak pernah berakhir. Hal ini membuat kita merasa selalu kekurangan.

Melansir dari Geediting.com Rabu (1/10), psikologi mengidentifikasi beberapa cara tidak sehat dalam perbandingan diri ini.

Orang yang jarang merasa bahagia sering menggunakan perbandingan sebagai alat untuk memvalidasi harga diri. Ini adalah cara yang tidak produktif dan beracun bagi jiwa.

1. Terus Mengukur Harga Diri Berdasarkan Pencapaian Orang Lain

Orang yang tidak bahagia cenderung mengukur nilai dirinya dengan tolok ukur kesuksesan orang lain.

Mereka melihat keberhasilan orang lain sebagai cerminan kegagalan pribadi mereka sendiri. Kebiasaan ini adalah hal tidak sehat karena setiap orang memiliki perjalanan hidup yang sangat unik.

2. Membandingkan yang Terburuk Milik Diri dengan yang Terbaik Milik Orang Lain

Mereka membandingkan seluruh kehidupan mereka yang penuh pasang surut dengan "sorotan" hidup orang lain.

Ini sering terjadi saat melihat unggahan media sosial yang hanya menampilkan momen sempurna. Perbandingan tidak adil ini pasti akan menyebabkan perasaan tidak memadai.

3. Percaya Bahwa Semua Orang Lain Sudah Menguasai Hidup Mereka

Orang-orang ini sering merasa bahwa hanya mereka yang masih kesulitan menemukan arah hidup.

Mereka melihat rekan-rekan mereka seolah sudah mencapai setiap tonggak kehidupan dengan sempurna. Padahal, pada kenyataannya, semua orang juga sedang berproses dan belajar.

4. Berfokus pada Perbandingan Berbasis Materialistis

Satu di antara jebakan perbandingan umum adalah menyamakan kebahagiaan dengan kepemilikan materi.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore