Perilaku ini merugikan diri sendiri dan orang lain dalam jangka panjang../Freepik.
JawaPos.com- Dalam kehidupan sosial modern, istilah entitlement atau rasa berhak semakin sering diperbincangkan. Rasa berhak bukan sekadar keyakinan bahwa seseorang pantas mendapatkan sesuatu, tetapi juga harapan berlebihan bahwa orang lain harus memenuhinya.
Sifat ini bisa dimiliki siapa saja—baik pria maupun wanita—namun penelitian menunjukkan bahwa ekspresinya sering berbeda berdasarkan gender.
Pada wanita, rasa berhak kerap terwujud dalam perilaku yang terlihat "normal" tetapi secara perlahan merusak hubungan, karier, maupun reputasi sosial mereka. Lebih kompleks lagi, banyak wanita yang merasa berhak tidak menyadari bahwa mereka sedang mempraktikkan pola perilaku ini. Mereka percaya bahwa apa yang mereka lakukan adalah wajar, padahal sebenarnya mengganggu keseimbangan interaksi dengan orang lain.
Dilansir dari laman Your Tango, kita akan membahas 11 perilaku jelas yang menunjukkan wanita merasa berhak menurut kajian psikologis, riset ilmiah, serta pengalaman sosial, lengkap dengan contoh nyata dan cara menghadapinya. Artikel ini ditulis untuk membantu pembaca memahami fenomena entitlement lebih mendalam, sekaligus menjadi refleksi untuk memperbaiki diri.
Rasa berhak adalah keyakinan bahwa seseorang pantas mendapatkan perlakuan khusus atau keistimewaan tanpa alasan logis atau usaha nyata. Menurut Psychological Bulletin, rasa berhak sering kali menimbulkan ekspektasi yang tidak realistis terhadap orang lain. Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, muncullah kekecewaan, kemarahan, bahkan konflik.
Psikologi membagi rasa berhak ke dalam dua kategori:
Rasa berhak rentan (vulnerable entitlement): biasanya terkait dengan harga diri rendah, trauma, dan ketergantungan emosional.
Rasa berhak berlebihan (grandiose entitlement): berkaitan dengan sifat narsistik, percaya diri berlebihan, dan kurang empati terhadap orang lain.
Kedua bentuk ini sama-sama berbahaya, baik dalam hubungan pribadi maupun profesional.
Wanita yang merasa berhak sering meyakini bahwa identitas mereka saja cukup untuk mendapatkan perlakuan istimewa. Mereka ingin diprioritaskan tanpa mempertimbangkan kontribusi nyata. Dalam hubungan, mereka mengharapkan pasangan selalu mengalah; di tempat kerja, mereka ingin dihargai tanpa menunjukkan performa sepadan.
Dampak: Menimbulkan ketidakadilan dalam hubungan dan lingkungan kerja, serta membuat orang lain merasa dimanfaatkan.
Mereka masih berpegang pada pola tradisional: pria harus bekerja keras, sementara wanita boleh bergantung. Meskipun tidak salah memilih peran domestik, masalah muncul ketika ekspektasi ini dijadikan standar mutlak.
Contoh: Menolak berkontribusi secara finansial dalam rumah tangga, tetapi tetap menuntut standar hidup tinggi.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
