Ilustrasi seseorang yang menjadi gampang merasa tidak puas
JawaPos.com - Di era digital, media sosial sudah menjadi bagian dari hidup sehari-hari.
Dari bangun tidur hingga menjelang tidur, jari-jemari kita hampir refleks membuka Instagram, TikTok, atau Twitter. Sekilas, aktivitas ini terasa wajar dan bahkan menyenangkan.
Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa ada sisi tersembunyi dari kebiasaan ini.
Akibatnya, muncul perubahan halus: kita jadi lebih mudah gelisah, sulit merasa puas, dan selalu merasa ada yang kurang.
Dilansir dari Geediting pada Selsa (26/8), terdapat tujuh kebiasaan media sosial yang tampak sepele, tetapi diam-diam mengubah cara otak bekerja.
Namun, setiap kali Anda menemukan postingan baru, otak melepas dopamin kecil—hormon yang memberi rasa "senang sesaat".
Masalahnya, dopamin ini cepat hilang sehingga otak meminta lebih banyak rangsangan.
Inilah sebabnya mengapa kita bisa tenggelam berjam-jam tanpa sadar.
Akibat jangka panjangnya, otak terbiasa mencari kepuasan instan dan sulit merasa cukup dengan hal-hal sederhana.
2. Membandingkan Hidup dengan Highlight Orang Lain
Media sosial ibarat etalase pencapaian.
Orang menampilkan liburan mewah, tubuh ideal, atau karier sukses.
Tanpa sadar, kita membandingkan kehidupan kita yang nyata (lengkap dengan masalah) dengan versi terbaik orang lain.
Psikologi menyebutnya social comparison trap.
Otak yang sering terjebak perbandingan ini lebih rentan pada rasa iri, cemas, dan perasaan "hidupku tidak cukup baik".
3. Menunggu Validasi dari Like dan Komentar
Banyak orang berkata, “Aku hanya upload biasa, tidak peduli likes.”
Tapi secara biologis, otak kita merespons setiap like sebagai bentuk pengakuan sosial.
Jika jumlahnya sedikit, timbul rasa kecewa; jika banyak, timbul euforia sesaat.
Lama-kelamaan, otak belajar mengaitkan harga diri dengan angka-angka digital.
Akibatnya, muncul kecenderungan mudah tidak puas ketika validasi itu tidak sesuai harapan.
4. Menyerap Berita Negatif Berlebihan
Timeline sering dipenuhi kabar buruk: konflik, bencana, skandal, atau gosip.
Tanpa sadar, otak kita mengalami negative bias—lebih sensitif terhadap hal buruk ketimbang hal baik.
Jika kebiasaan ini terus berulang, sistem saraf menjadi lebih reaktif terhadap stres.
Akhirnya, kita jadi lebih cepat gelisah, sulit menikmati momen, dan merasa dunia penuh ancaman.
5. Overstimulasi dari Konten Cepat dan Singkat
Reels, TikTok, atau Shorts dirancang untuk memberikan hiburan kilat.
Otak terbiasa mendapat rangsangan cepat, visual menarik, dan punchline instan.
Efek jangka panjangnya, kemampuan fokus menurun, kesabaran menipis, dan standar hiburan menjadi tinggi.
Dalam kehidupan nyata yang berjalan lambat, otak pun mudah merasa bosan dan tidak puas.
6. Mengganti Interaksi Nyata dengan Interaksi Virtual
Chat, komentar, atau emoji memang terasa praktis.
Namun, psikologi menunjukkan bahwa interaksi tatap muka memberi pelepasan hormon oksitosin yang lebih kuat, membangun rasa keterhubungan sejati.
Jika terlalu sering mengganti interaksi nyata dengan virtual, otak mulai "merasa hampa".
Kita punya banyak teman online, tapi tetap merasa kesepian.
Dari sinilah rasa tidak puas terhadap hubungan sosial kerap muncul.
7. Kebiasaan Mengejar Tren dan Fear of Missing Out (FOMO)
Media sosial penuh tren baru: tantangan viral, gaya fashion, atau opini terkini.
Dorongan untuk selalu ikut agar tidak ketinggalan membuat otak bekerja dalam mode "kekurangan" terus-menerus.
Psikologi menyebutnya scarcity mindset.
Bukannya menikmati apa yang sudah ada, otak malah sibuk mengejar tren berikutnya, sehingga kepuasan hidup terasa makin sulit diraih.
Kesimpulan: Puas Itu Dilatih, Bukan Dicari di Luar
Media sosial tidak sepenuhnya buruk; ia bisa jadi sumber informasi, hiburan, bahkan penghasilan.
Namun, ketika tujuh kebiasaan di atas dibiarkan, otak kita dilatih untuk selalu mencari "lebih" dan jarang merasa cukup.
Psikologi mengajarkan bahwa kepuasan bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan hasil latihan dalam diri—dengan mensyukuri yang ada, membatasi paparan berlebihan, dan memilih interaksi yang sehat.
Ingatlah, bukan media sosial yang berbahaya, melainkan bagaimana kita menggunakannya.
Dengan kesadaran, kita bisa menjadikan media sosial sebagai alat, bukan candu.