Dukungan sosial dari lingkungan sekitar berperan besar dalam membantu seseorang mengatur emosi secara sehat
JawaPos.com – Tidak bisa dimungkiri, manusia adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan orang lain.
Mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, pekerjaan, hingga komunitas digital, semua interaksi sosial yang kita alami sehari-hari memiliki dampak langsung terhadap kondisi psikologis.
Salah satunya adalah pada kemampuan regulasi emosi, yakni cara seseorang mengelola, mengekspresikan, dan merespons emosinya secara sehat.
Baca Juga: Kenali Tipe MBTI yang Paling Sering Jadi Inisiator dan Pemimpin Alami di Lingkungan Sosial dan Kerja
Apa itu regulasi emosi?
Regulasi emosi adalah kemampuan individu dalam mengendalikan perasaan, baik positif maupun negatif, agar tetap sesuai dengan situasi yang dihadapi. Menurut Gross (2002), regulasi emosi tidak hanya penting untuk menjaga kesehatan mental, tetapi juga memengaruhi kualitas hubungan sosial seseorang. Individu yang mampu mengatur emosi dengan baik cenderung lebih mudah menjalin komunikasi, menyelesaikan konflik, dan menjaga kesejahteraan psikologisnya.
Bagaimana lingkungan sosial memengaruhinya?
Lingkungan sosial memegang peranan penting dalam proses pembentukan regulasi emosi. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science (Gross & John, 2003), individu dengan dukungan sosial yang kuat memiliki regulasi emosi yang lebih sehat. Sebaliknya, mereka yang berada di lingkungan penuh tekanan atau kekerasan berisiko mengalami kesulitan mengendalikan emosi.
Keluarga misalnya, menjadi lingkungan pertama yang membentuk pola emosi anak. Pola asuh yang hangat dan suportif membuat anak belajar mengelola marah, sedih, maupun cemas secara sehat. Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam keluarga penuh kritik atau konflik cenderung lebih rentan mengalami gangguan regulasi emosi.
Dampak positif lingkungan sosial yang sehat
Studi yang dilakukan Unesa (2022) menegaskan bahwa keberadaan teman sebaya dan komunitas yang suportif dapat meningkatkan self-esteem serta menurunkan tingkat stres. Individu yang merasa diterima dalam lingkungannya lebih mudah mengungkapkan emosi tanpa rasa takut dihakimi. Hal ini tentu berdampak positif terhadap kesehatan mental jangka panjang.
Tidak hanya di dunia nyata, interaksi di media sosial juga memberi pengaruh. Komunitas digital yang saling memberi dukungan dapat menjadi ruang aman bagi banyak orang untuk berbagi pengalaman emosional. Misalnya, kelompok diskusi kesehatan mental di platform daring yang mendorong anggotanya saling menguatkan.
Risiko dari lingkungan sosial yang negatif
Sebaliknya, lingkungan yang toksik justru dapat memperburuk kondisi emosional. Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Verywell Mind (2021), lingkungan penuh tekanan sosial berisiko menimbulkan stres kronis, kecemasan, hingga depresi. Individu yang sering terpapar komentar negatif atau perundungan, baik di dunia nyata maupun dunia digital, akan lebih sulit membangun regulasi emosi yang sehat.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
