Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Juni 2025 | 12.28 WIB

Orang-orang yang Selalu Menanggapi Kritik Secara Personal Biasanya Memiliki 7 Pengalaman ini saat Tumbuh Dewasa

Ilustrasi tujuh pengalaman masa kecil yang dialami oleh orang-orang yang selalu menanggapi kritikan secara personal. (MART PRODUCTION/pexels) - Image

Ilustrasi tujuh pengalaman masa kecil yang dialami oleh orang-orang yang selalu menanggapi kritikan secara personal. (MART PRODUCTION/pexels)

JawaPos.com - Saat dilahirkan, tidak seorangpun yang lahir dengan perlengkapan emosi yang lengkap. Cara kita menangani kritik, misalnya, sering kali berakar dalam cara kita dibesarkan.

Beberapa orang lebih mudah tersinggung dengan kritikan sekecil apapun. Mereka tampaknya menanggapi segala sesuatu secara pribadi, mengubah setiap kritik menjadi krisis besar.

Menurut psikologi, pengalaman masa kecil sering kali memainkan peran penting. Faktanya, ada tujuh pengalaman masa kecil yang umumnya dialami oleh banyak individu yang sangat sensitif ini sejak masa pembentukan diri.

Dilansir dari Geediting, inilah tujuh pengalaman masa kecil yang dialami oleh orang-orang yang selalu menanggapi kritikan secara personal.

1. Sering dikritik saat masih anak-anak

Seringkali, akar dari kepekaan terhadap kritik terletak pada masa kanak-kanak. Bagi mereka yang selalu menanggapi kritik secara pribadi, tidak jarang mereka sering dikritik saat tumbuh dewasa.

Kritik terus-menerus ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari ketidaksetujuan orang tua hingga komentar kasar dari teman sebaya. Tumbuh besar dengan kritikan terus-menerus dapat meningkatkan kesadaran diri.

Anak mungkin mulai melihat dirinya sendiri melalui sudut pandang kritikan ini, dan menjadikannya sebagai bagian dari identitasnya. Artinya, di masa dewasa, kritik yang membangun pun bisa terasa seperti serangan langsung terhadap harga diri mereka.

Kritik yang membangun tidak lagi sekadar menunjukkan kesalahan atau menyarankan perbaikan, tetapi kritik yang membangun dianggap sebagai kegagalan pribadi.

2. Prestasi mereka selalu dibayangi oleh kesalahan mereka

Mereka adalah orang-orang yang tumbuh dengan tidak peduli seberapa baik prestasinya di sekolah atau olahraga, kesalahan mereka selalu menjadi pusat perhatian. Setiap kesalahan selalu berujung kekecewaan dan ketidaksetujuan.

Sementara itu, prestasi mereka sering kali diremehkan atau diabaikan begitu saja. Ketidakseimbangan ini menciptakan semacam pandangan sempit di mana orang lain hanya melihat kesalahan mereka dan tidak pernah melihat keberhasilannya.

Mereka terbiasa dengan kesalahan mereka yang menjadi pusat perhatian, sementara prestasi mereka dikesampingkan. Akibatnya, mereka menganggap kritik sebagai konfirmasi atas ketidakmampuan mereka, alih-alih melihatnya sebagai umpan balik yang dapat membantu mereka tumbuh dan berkembang.

3. Tumbuh dalam lingkungan yang perfeksionis

Di beberapa keluarga, ada aturan tak tertulis bahwa segala sesuatu yang kurang dari sempurna tidaklah cukup baik. Lingkungan seperti ini dapat sangat merusak harga diri anak dan kemampuan mereka untuk menghadapi kritik.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore