Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 Mei 2025 | 13.55 WIB

Dopamine Burnout: Kamu Bukan Malas, Tapi Otakmu Tumpul karena Terlalu Sering Diserbu Konten Instan

Cara Jitu Hilangkan Malas Kerja: Ubah Lingkungan, Tetapkan Tujuan, dan Fokus Tindakan. (freepik) - Image

Cara Jitu Hilangkan Malas Kerja: Ubah Lingkungan, Tetapkan Tujuan, dan Fokus Tindakan. (freepik)

JawaPos.com - Apakah kamu pernah merasa kehilangan semangat untuk melakukan apa pun, padahal tubuhmu tidak merasa lelah?

Seperti semua terasa berat, kurang motivasi, dan bahkan hal-hal yang dulu menyenangkan kini terasa hambar? 

Kondisi ini sering dianggap sebagai kemalasan, padahal tidak selamanya begitu, bisa jadi kamu sedang mengalami sesuatu yang lebih dalam secara neurologis. Istilah untuk menggambarkan hal tersebut adalah dopamine burnout.

Dikutip JawaPos dari laman Break Free Psychology Services, kondisi ini muncul saat kita terlalu sering terpapar hal-hal yang memberikan kesenangan seperti bermain ponsel, sehingga otak lama-lama jadi kurang sensitif. 

Akibatnya, kita butuh rangsangan yang lebih besar hanya untuk bisa merasa senang atau termotivasi seperti sebelumnya.

Dopamin adalah neurotransmitter penting dalam otak yang berperan dalam sistem motivasi dan penghargaan. 

Ia dilepaskan ketika kita mengantisipasi atau menerima sesuatu yang menyenangkan, seperti makanan favorit, pencapaian pribadi, hingga notifikasi dari media sosial. 

Namun, dalam dunia modern yang dipenuhi stimulus cepat dan instan, otak kita terpapar terlalu banyak pelepasan dopamin. 

Otak akhirnya mencoba menjaga keseimbangan dengan menurunkan sensitivitas terhadap dopamin. 

Inilah yang membuat kita kehilangan minat terhadap hal-hal biasa dan menjadi semakin bergantung pada rangsangan yang lebih ekstrim hanya untuk merasa “normal”.

Fenomena ini bukanlah istilah medis resmi, namun banyak dibahas dalam psikologi populer dan ilmu saraf perilaku. 

Istilah “dopamine burnout” dipakai untuk menggambarkan kondisi ketika sistem penghargaan otak menjadi tumpul akibat konsumsi berlebihan terhadap stimulus tinggi.

Hal itu dapat terjadi dari aktivitas digital seperti scrolling media sosial, binge-watching, atau terus-menerus mengejar validasi eksternal.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore