Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Mei 2025 | 03.16 WIB

Kenapa Banyak Pria Sulit Terbuka pada Pasangan? Ini 7 Alasannya Menurut Psikologi

Ilustrasi pria yang sulit terbuka kepada pasangannya. (Freepik). - Image

Ilustrasi pria yang sulit terbuka kepada pasangannya. (Freepik).

JawaPos.com - Dalam hubungan romantis, komunikasi yang terbuka dan jujur jadi fondasi utama yang bikin hubungan langgeng. Tapi kenyataannya, banyak perempuan sering merasa kesulitan mengajak pasangannya untuk berbicara dari hati ke hati. Mungkin kamu pernah mengalaminya—pasanganmu terlihat memendam sesuatu, tapi ketika ditanya, jawabannya hanya “nggak apa-apa.” Apa sebenarnya yang terjadi?

Ternyata, kecenderungan pria untuk menutup diri dalam hubungan bukan tanpa alasan. Psikologi melihat fenomena ini sebagai hasil dari berbagai faktor biologis, sosial, dan emosional yang saling memengaruhi. Dilansir dari Psychology Today, berikut tujuh alasan utama mengapa banyak pria sulit terbuka kepada pasangannya.

1. Didikan Maskulin: Emosi Dianggap Bukan “Laki Banget”

Sejak usia dini, banyak laki-laki dibesarkan dengan pesan bahwa menangis, mengeluh, atau menunjukkan kelemahan adalah tanda kelemahan. Dalam budaya maskulinitas tradisional, pria didorong untuk “kuat” dan tahan banting, bukan rentan dan terbuka. Tak heran, ketika masuk ke hubungan romantis, membuka perasaan terasa seperti melanggar aturan tak tertulis yang tertanam sejak kecil.

2. Sulit Mengartikan Perasaan Sendiri (Alexithymia)

Beberapa pria mungkin bukan tidak mau terbuka—mereka justru kesulitan memahami perasaan mereka sendiri. Kondisi ini dikenal sebagai alexithymia, yaitu kesulitan dalam mengenali, mengartikan, dan mengomunikasikan emosi. Akibatnya, mereka kesulitan menjawab pertanyaan seperti “Kamu lagi kenapa sih?” bukan karena enggan, tapi karena memang tidak tahu pasti jawabannya.

3. Takut Memicu Masalah

Banyak pria berpikir: “Kalau aku jujur, nanti malah jadi ribut.” Ketakutan akan konflik atau reaksi negatif dari pasangan membuat mereka menutup diri. Mereka merasa lebih aman menyimpan emosi ketimbang harus menghadapi drama yang mungkin timbul karena keterbukaan itu.

4. Gaya Cinta ‘Avoidant’

Dalam teori psikologi kelekatan (attachment theory), ada tipe orang yang cenderung menghindari kedekatan emosional karena pengalaman masa kecil yang penuh jarak atau penolakan. Tipe ini sering ditemukan pada pria dengan gaya avoidant, yang cenderung menjaga jarak dalam hubungan dan enggan membahas hal-hal yang menyentuh emosi terlalu dalam.

5. Lebih Nyaman Menunjukkan Cinta Lewat Tindakan

Alih-alih berkata “Aku sayang kamu,” banyak pria merasa lebih natural menunjukkan kasih sayangnya lewat tindakan konkret: mengantar pulang, memperbaiki barang rusak, atau menyediakan kebutuhan pasangan. Bagi mereka, perbuatan adalah bentuk cinta yang paling jujur—bahkan lebih bermakna ketimbang kata-kata.

6. Lingkungan yang Tidak Mendukung untuk Bicara Perasaan

Sering kali, pria tumbuh di lingkungan yang tidak memberi ruang aman untuk berbagi perasaan. Saat mereka ingin curhat, mereka khawatir dianggap “lemah” atau diledek. Karena tidak terbiasa mendapat validasi saat berbicara soal emosi, mereka pun memilih diam, bahkan ketika bersama pasangan.

7. Tekanan Sosial yang Masih Kuat

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore