Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Mei 2025 | 20.11 WIB

5 Fakta Ilmiah Tentang Otak Introvert, Benarkah Mereka Secara Biologis Cenderung Overthinking?

Ilustrasi otak introvert (freepik) - Image

Ilustrasi otak introvert (freepik)

JawaPos.com - Dicetuskan oleh Carl Jung pada awal abad ke-20, istilah “introversi” dan “ekstroversi” telah memperoleh popularitas yang luas berkat prevalensi teori kepribadian manusia di dunia maya.

Menentukan distribusi pasti kaum introvert dan ekstrovert di seluruh dunia bukanlah hal yang mustahil.

Akan tetapi, beberapa penelitian berspekulasi bahwa kaum introvert mencakup sekitar sepertiga hingga setengah dari populasi dunia, sehingga jumlah mereka cukup merata.

Meski relatif umum, sifat introvert masih sering disalahpahami oleh masyarakat umum, termasuk kaum introvert sendiri. Namun, penelitian ilmiah terkini tidak memiliki kecenderungan yang sama.

Sebaliknya, sejumlah peneliti independen telah menemukan beberapa elemen penting yang diperlukan untuk memahami biologi, sains, dan psikologi di balik introversi dan ekstroversi.

Ternyata, sifat introvert lebih rumit dari sekadar tidak menikmati keramaian. Dilansir dari Astroligion.com, Senin (11/5), inilah lima fakta ilmiah tentang otak introvert yang perlu Anda ketahui.

1. Introversi mengacu pada reaksi terhadap lingkungan

Aspek pertama yang perlu dipahami tentang introversi adalah definisinya. Sering disalahpahami sebagai rasa malu, depresi, kekasaran, atau kecemasan.

Kaum introvert sering menjadi sasaran banyak kesalahpahaman dan stereotip yang hampir tidak ada hubungannya dengan konsep itu sendiri.

Introversi dan ekstroversi, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Carl Jung, adalah tipe kepribadian yang ditentukan oleh sumber utama kepuasan bagi setiap individu.

Dengan demikian, ekstrovert cenderung memfokuskan energi dan minat mereka terhadap dunia luar, sementara introvert lebih suka mengarahkan kehidupan mereka ke dalam, mengarahkan perhatian mereka ke dunia batin mereka.

Oleh karena itu, kaum introvert cenderung merasa dihargai dan terpuaskan oleh aktivitas introspektif dan bersemangat dengan 'waktu sendiri' yang hakiki.

Akan tetapi, aktivitas yang disukai kaum ekstrovert—berinteraksi dengan lingkungan eksternal dan bersosialisasi dalam waktu lama—menguras semangat kaum introvert dan membanjiri indra mereka setelah beberapa waktu, membuat mereka mencari kesendirian untuk beristirahat dan 'mengisi ulang' energi.

2. Kaum introvert dan ekstrovert menyukai sisi yang berbeda dari sistem saraf otonom mereka

Seperti disebutkan di atas, kaum introvert mendapatkan energi dan bersemangat dengan dunia batin mereka dan kelelahan karena interaksi yang lama dengan dunia luar.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore