Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 April 2025 | 19.21 WIB

Orang yang Sulit Menerima Pujian Biasanya Memiliki 7 Pengalaman Masa Kecil ini

Ilustrasi tujuh pengalaman masa kecil yang mungkin menjelaskan mengapa Anda sulit menerima pujian. (PexelsYan Krukau) - Image

Ilustrasi tujuh pengalaman masa kecil yang mungkin menjelaskan mengapa Anda sulit menerima pujian. (PexelsYan Krukau)

JawaPos.com - Beberapa orang mungkin mengalami ini: menerima pujian tetapi disertai dengan perasaan yang nyaman. Sering kali, kesulitan menerima pujian ini berakar dari pengalaman saat masa kecil.

Pengalaman dan interaksi masa lalu mungkin telah membentuk reaksi kita saat mendapatkan afirmasi positif ketika dewasa.

Dilansir dari Blog Herald, inilah tujuh pengalaman masa kecil yang mungkin menjelaskan mengapa Anda sulit menerima pujian.

Memahami perasaan ini untuk membantu Anda menyambut masa depan dengan sedikit lebih mencintai dan menerima diri sendiri.

1. Pujian bersyarat

Saat masih anak-anak, beberapa orang nampaknya sering kali menerima pujian setelah melakukan sesuatu. Mereka mungkin mendengar, "Bagus sekali, kamu anak yang pintar!" setelah lulus ujian atau "Kamu sangat membantu!" setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Pujian seperti itu, meskipun tampaknya positif namun bersifat kondisional. Pujian itu datang bergantung pada apa yang anak-anak lakukan, bukan siapa kita. Bila pujian sering kali dikaitkan dengan kinerja atau perilaku, anak-anak itu akan mulai mengaitkan pujian dengan syarat.

Hal ini menyebabkan mereka kesulitan menerima pujian dalam kehidupan dewasa karena selalu menunggu hasilnya atau syarat yang menyertainya.

2. Penguatan negatif

Orang dewasa ini tumbuh dengan masa anak-anak di mana orang tuanya mengatakan: “Kamu hanya bermain bagus karena kakakmu membantu kamu,” atau “Kamu tidak akan menang jika tim lain bermain lebih baik.”

Komentar semacan ini meskipun tidak bermaksud menyakiti dapat meninggalkan dampak yang bertahan lama, bahkan hingga mereka dewasa. Umpan balik semacan ini dapat membuatnya merasa bahwa pencapaian bukanlah benar-benar milik kita sendiri, melainkan hasil dari faktor situasional atau orang lain.

Akibatnya, mereka mulai meragukan diri sendiri dan kemampuannya. Pujian apapun rasanya tidak pantas atau palsu karena kita telah dikondisikan untuk percaya bahwa kita bukanlah alasan sebenarnya untuk kesuksesan kita.

3. Kurangnya umpan balik positif

Di beberapa keluarga, penguatan positif jarang terjadi. Pujian bukan bagian dari interaksi sehari-hari. Menurut sebuah penelitian, anak-anak yang menerima sedikit atau tidak sama sekali umpan balik positif cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang berjuang dengan masalah harga diri.

Tumbuh dalam lingkungan seperti itu dapat membuat kita tidak terbiasa dan tidak nyaman menerima pujian. Kita bahkan mungkin mulai tidak memercayai pujian, menganggapnya tidak tulus atau memiliki motif tersembunyi.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore