
Ilustrasi tujuh pengalaman masa kecil yang mungkin menjelaskan mengapa Anda sulit menerima pujian. (PexelsYan Krukau)
JawaPos.com - Beberapa orang mungkin mengalami ini: menerima pujian tetapi disertai dengan perasaan yang nyaman. Sering kali, kesulitan menerima pujian ini berakar dari pengalaman saat masa kecil.
Pengalaman dan interaksi masa lalu mungkin telah membentuk reaksi kita saat mendapatkan afirmasi positif ketika dewasa.
Dilansir dari Blog Herald, inilah tujuh pengalaman masa kecil yang mungkin menjelaskan mengapa Anda sulit menerima pujian.
Memahami perasaan ini untuk membantu Anda menyambut masa depan dengan sedikit lebih mencintai dan menerima diri sendiri.
1. Pujian bersyarat
Saat masih anak-anak, beberapa orang nampaknya sering kali menerima pujian setelah melakukan sesuatu. Mereka mungkin mendengar, "Bagus sekali, kamu anak yang pintar!" setelah lulus ujian atau "Kamu sangat membantu!" setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.
Pujian seperti itu, meskipun tampaknya positif namun bersifat kondisional. Pujian itu datang bergantung pada apa yang anak-anak lakukan, bukan siapa kita. Bila pujian sering kali dikaitkan dengan kinerja atau perilaku, anak-anak itu akan mulai mengaitkan pujian dengan syarat.
Hal ini menyebabkan mereka kesulitan menerima pujian dalam kehidupan dewasa karena selalu menunggu hasilnya atau syarat yang menyertainya.
2. Penguatan negatif
Orang dewasa ini tumbuh dengan masa anak-anak di mana orang tuanya mengatakan: “Kamu hanya bermain bagus karena kakakmu membantu kamu,” atau “Kamu tidak akan menang jika tim lain bermain lebih baik.”
Komentar semacan ini meskipun tidak bermaksud menyakiti dapat meninggalkan dampak yang bertahan lama, bahkan hingga mereka dewasa. Umpan balik semacan ini dapat membuatnya merasa bahwa pencapaian bukanlah benar-benar milik kita sendiri, melainkan hasil dari faktor situasional atau orang lain.
Akibatnya, mereka mulai meragukan diri sendiri dan kemampuannya. Pujian apapun rasanya tidak pantas atau palsu karena kita telah dikondisikan untuk percaya bahwa kita bukanlah alasan sebenarnya untuk kesuksesan kita.
3. Kurangnya umpan balik positif
Di beberapa keluarga, penguatan positif jarang terjadi. Pujian bukan bagian dari interaksi sehari-hari. Menurut sebuah penelitian, anak-anak yang menerima sedikit atau tidak sama sekali umpan balik positif cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang berjuang dengan masalah harga diri.
Tumbuh dalam lingkungan seperti itu dapat membuat kita tidak terbiasa dan tidak nyaman menerima pujian. Kita bahkan mungkin mulai tidak memercayai pujian, menganggapnya tidak tulus atau memiliki motif tersembunyi.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
