
Rekaman CCTV yang menampilkan gerak-gerik eksekutor penyiraman air keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus. (Sabik Aji Taufan/JawaPos.com)
JawaPos.com - Analis Politik dan Militer dari Universitas Nasional (Unas) Selamat Ginting turut menyoroti penanganan kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus. Menurut dia, proses hukum terhadap 4 prajurit TNI sebagai terduga pelaku harus tetap diawasi sesuai dengan prinsip demokrasi.
Dalam negara demokrasi modern, Selamat menyampaikan bahwa militer selalu menempati posisi unik. Institusi tersebut menjadi alat negara yang diberi legitimasi menggunakan kekerasan, namun juga dituntut tunduk pada hukum. Karena itu, lahir konsep lex specialis dalam hukum militer.
”Sebuah sistem hukum khusus yang membedakan prajurit militer seluruh dunia dari warga sipil,” kata dia dalam keterangan resmi pada Jumat (20/3).
Kini polemik mencuat. Proses hukum terhadap 4 terduga pelaku dalam kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus diadili lewat mekanisme peradilan militer, peradilan umum, atau peradilan koneksitas. Menurut dia, secara historis dan konseptual, keberadaan hukum militer bukanlah penyimpangan.
Baca Juga:Hari Raya Idul Fitri 2026 Beda Sehari, Muhammadiyah Jatim: Itu Hal Biasa, Tak Perlu Diributkan!
Selamat menyatakan bahwa hadirnya hukum militer adalah kebutuhan. Sebab, militer bekerja dalam situasi yang tidak sepenuhnya bisa diatur oleh hukum sipil biasa. Ada disiplin, loyalitas terhadap komando, serta kecepatan dalam mengambil keputusan sebagai fondasi utama.
Tidak hanya itu, hukum militer juga menempatkan kerahasiaan tugas sebagai prioritas tertinggi, itu berlaku baik dalam operasi tempur maupun intelijen. Pelanggaran terhadap kerahasiaan tersebut bisa dikategorikan sebagai tindak pidana militer serius. Sebab, dapat membahayakan pertahanan dan keamanan negara
”Oleh karena itu, banyak negara, termasuk Indonesia, mengadopsi sistem hukum militer melalui Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997, yang menegaskan bahwa prajurit diadili berdasarkan statusnya sebagai militer,” jelas dia.
Indonesia bukan satu-satunya negara yang memiliki hukum militer. Selamat menyebut, Amerika Serikat (AS) juga punya hukum militer. Yakni Uniform Code of Military Justice. Sementara Inggris menggunakan Armed Forces Act. Dia menyatakan bahwa saat ini hampir semua negara mengakui perlunya sistem hukum militer.
Berkaitan dengan mekanisme peradilan koneksitas, lanjut Selamat, hanya dapat dilakukan ketika pelaku terdiri atas unsur militer dan sipil. Penyidikan bisa dilakukan bersama-sama oleh Polisi Militer dan Kejaksaan Agung (Kejagung). Dalam penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, terduga pelaku adalah prajurit aktif, maka yurisdiksinya cenderung berada dalam peradilan militer.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di Liga Nations UEFA: Jvarosnebi Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Bangladesh vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Harimau Malaya Curi Kemenangan
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022