
Rosa Agustina. (Alfian Rizal/Jawa Pos)
JawaPos.com - PT Jawa Pos menghadirkan dua ahli hukum perdata dalam sidang sengketa kepemilikan saham PT Dharma Nyata Press (DNP) di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (10/2). Yakni, Guru Besar Hukum Keperdataan Universitas Indonesia (UI) Rosa Agustina dan Ghansham Anand dari Universitas Airlangga Surabaya (Unair). Kedua ahli sama-sama berpendapat bahwa tidak ada perbuatan melawan hukum yang dilakukan PT Jawa Pos selaku tergugat II sebagaimana yang didalilkan Dahlan selaku penggugat.
Dahlan dalam perkara ini menggugat notaris Edhi Susanto dan PT Jawa Pos. Dia mendalilkan notaris Edhi telah melanggar undang-undang jabatan notaris tanpa menguraikan secara jelas perbuatan dan kaitannya dengan PT Jawa Pos. Sementara PT Jawa Pos ditarik sebagai tergugat II karena melaporkan Dahlan ke polisi.
Menurut Rosa, gugatan tersebut obscuur libel atau kabur karena tidak ada hubungan kausalitas antara notaris Edhi selaku tergugat I dengan PT Jawa Pos sebagai tergugat II. "Kalau penggabungan gugatan yang tidak ada relevansinya tentu gugatan itu dianggap obscuur libel," kata Rosa dalam persidangan.
Rosa menambahkan bahwa PT Jawa Pos yang melaporkan Dahlan ke polisi bukan perbuatan melawan hukum. "Tentu tidak, karena hak warga negara apabila mengalami peristiwa pidana," ungkapnya.
Selain itu, gugatan Dahlan yang tidak mencantumkan nilai ganti rugi layak ditolak. "Konsekuensi tidak ada nilai kerugian dalam gugatan maka ditolak kalau gugatan sudah diuji karena itu sudah masuk pokok perkara," tuturnya.
Rosa juga menegaskan bahwa akta pernyataan yang dibuat Dahlan Iskan dengan menyebut bahwa PT DNP bagian dari PT Jawa Pos memiliki kekuatan hukum mengikat. Menurut dia, orang yang membuat akta pernyataan maka bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas apa yang dibuatnya sendiri.
Ghansham Anand. (Alfian Rizal/Jawa Pos)
Pendapat yang sama juga disampaikan Ghansham. Menurut dia, apabila akta pernyataan itu batal, maka kembali pada keadaan semula, seolah-olah tidak ada perbuatan itu. Maka dari itu, Dahlan selaku pembuat akta pernyataan telah berbuat melawan hukum dan tidak berhak memperoleh perlindungan hukum.
"Kalau tidak dikembalikan ke keadaan semula maka declarant (pembuat akta/Dahlan) memperoleh kekayaan secara tidak patut," kata Ghansham. Karena itu, Dahlan harus mengembalikan kekayaannya kepada pemegang hak, yakni PT Jawa Pos.
Selain itu, dalam pembuatan akta, notaris bersandar pada keterangan penghadap, yakni Dahlan. Apabila akta tersebut dibuat secara tidak benar, maka Dahlan selaku penghadap yang harus bertanggung jawab. "Kalau bohong berarti penghadap yang berbohong," katanya.
Sementara itu, pengacara Dahlan, Beryl Cholif Arrachman, mengatakan bahwa pendapat kedua ahli menguatkan dalil gugatannya. "Di mana para tergugat (notaris Edhi dan PT Jawa Pos), terbukti telah melakukan perbuatan melawan hukum," ujar Beryl.
Pengacara PT Jawa Pos E.L. Sajogo (kanan). (Alfian Rizal/Jawa Pos)
Di sisi lain, pengacara PT Jawa Pos E.L. Sajogo, dari MS&A Lawfirm, mengatakan bahwa pendapat para ahli menegaskan bahwa PT Jawa Pos tidak berbuat melawan hukum sebagaimana dalil gugatan Dahlan. Sebaliknya, justru Dahlan yany berbuat melawan hukum.
"Apabila Dahlan Iskan menggunakan uang PT Jawa Pos untuk membeli aset saham-saham perseroan lain diatasnamakan pribadi, maka itu perbuatan melawan hukum," kata Sajogo. (gas)
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
