
Polda Metro Jaya ringkus pemilik akun Bjorka yang mengaku meretas data nasabah bank swasta. (Polda Metro Jaya)
JawaPos.com - Penangkapan seorang pria yang diklaim aparat sebagai sosok di balik peretas atau hacker 'Bjorka' justru menimbulkan keraguan besar. Alih-alih menunjukkan keberhasilan, kasus ini memperlihatkan betapa rapuhnya tata kelola investigasi siber di Indonesia, terutama dalam menghadapi aktor peretas berlapis anonimitas.
Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC), Pratama Persadha, menilai langkah aparat terlalu cepat dipublikasikan tanpa bukti forensik yang jelas.
Padahal, identitas Bjorka dikenal sangat kompleks, menggunakan teknik enkripsi, forum gelap, dan jaringan perantara yang membuat atribusi tak bisa dilakukan secara sederhana.
“Investigasi siber tidak bisa tergesa-gesa. Tanpa pembuktian digital forensik yang kuat, klaim penangkapan hanya menimbulkan keraguan publik,” kata Pratama kepada JawaPos.com.
Sebelumnya, ia menegaskan, salah atribusi justru dapat merusak kredibilitas aparat dan memperkuat persepsi bahwa penegakan hukum lebih mementingkan pencitraan ketimbang akurasi teknis.
Kasus ini juga memperlihatkan minimnya kapasitas digital forensik di Indonesia. Sementara peretas global menggunakan teknik lanjutan seperti false flag atau jejak digital palsu untuk menyesatkan investigasi, aparat kerap kesulitan melacak pola aktivitas secara konsisten. Akibatnya, risiko salah target semakin besar.
Fakta di lapangan memperkuat keraguan itu. Aktivitas akun Bjorka di forum gelap maupun kanal Telegram tetap berlanjut meski aparat telah mengumumkan penangkapan.
Hal ini menegaskan bahwa persona Bjorka kemungkinan tidak dijalankan satu orang, melainkan kolektif, sehingga mustahil dihentikan hanya dengan menangkap individu tunggal.
Di sisi lain, tekanan publik dan politik diduga ikut memengaruhi ritme investigasi. Pemerintah dituntut untuk segera menunjukkan hasil, apalagi setelah berbagai kebocoran data strategis menghebohkan masyarakat sejak 2022.
Namun, langkah cepat tanpa bukti kuat justru memperburuk situasi, karena pelaku sebenarnya bisa semakin sulit dilacak.
Menurut Pratama, kasus Bjorka seharusnya menjadi momentum pembenahan tata kelola keamanan siber Indonesia.
Dibutuhkan penguatan kapasitas teknis aparat, kolaborasi lintas lembaga, hingga adopsi teknologi kecerdasan buatan untuk menganalisis pola data secara lebih akurat. Tanpa itu, investigasi akan terus tertinggal dari kecepatan aktor peretas global.
“Jika tata kelola investigasi tidak diperbaiki, kasus seperti Bjorka akan terus berulang. Publik bisa kehilangan kepercayaan, sementara pelaku asli tetap bebas bergerak di ruang digital,” tandas Pratama.

Prediksi Skor Afrika Selatan vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Penentu Les Rouges Lolos 16 Besar
Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Skor Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026: Oranje Dijagokan Menang Tipis Kontra Singa Atlas
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sejarah! Indonesia Juara AVC Men's Cup 2026 Hancurkan Korea Selatan 3-0
Pakai Tas Mewah, Tiga Pengasuh Anak-anak Raffi Ahmad-Nagita Slavina Sedang Asik Liburan Jadi Sorotan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Jepang di 32 Besar Piala Dunia 2026: Marquinhos Akui Samurai Biru Sedang Percaya Diri
Start P7 di Sirkuit Assen! Veda Ega Pratama Bongkar Penyebab Crash di Practice Moto3 Belanda 2026
