
MASIH SHOCK: Petugas Dinsos Banyuwangi mendampingi orang tua kroban di Kalibaru, Banyuwangi, kemarin. (Jawa Pos Radar Banyuwangi)
JawaPos.com – Proses otopsi jenazah DC, upik 7 tahun yang diduga menjadi korban rudapaksa, sudah selesai dilakukan. Polresta Banyuwangi, Jawa Timur, saat ini masih menunggu hasilnya. ”Hasil otopsi nanti dikirim melalui surat oleh dokternya. Kalau dari dokternya (hasil otopsi) disampaikan secepatnya,” jelas Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rama Samtama Putra yang diwakili Kasatreskrim Kompol Andrew Vega di Banyuwangi kemarin (14/11).
Mengutip Jawa Pos Radar Banyuwangi, DC, pelajar kelas I salah satu madrasah ibtidaiyah, ditemukan di kebun sengon di kawasan Kalibaru, Banyuwangi, dalam kondisi sudah tak bernyawa Rabu (13/11) lalu. Orang yang menemukan adalah ibu kandungnya, SA, yang sedang hamil tua.
Biasanya korban pulang sekolah dengan naik sepeda kayuh sampai rumah sekitar pukul 10.15. Karena hingga siang tidak kunjung pulang, ibu korban menghubungi pihak sekolah.
Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), ditemukan kancing baju korban serta bercak darah di bagian hidung dan kepala belakang. Diduga, korban mengalami gegar otak akibat benturan benda tumpul.
Sejumlah barang milik korban juga hilang seperti sepatu, tas, dan sepeda kayuh. Sepeda korban ditemukan sekitar 20 meter dari lokasi penemuan jenazah. Kalung dan gelang emas yang dikenakan korban juga hilang.
Kapolresta Kombespol Rama Samtama Putra langsung membentuk tim khusus (timsus). Timsus yang beranggota lintas kesatuan itu sudah bergerak. Diawali olah TKP, lalu mengumpulkan bukti hingga mengorek keterangan sejumlah saksi. Sayangnya, hingga kemarin (14/11) hasilnya masih nihil. Pelaku belum terkuak.
”Kami masih terus melakukan identifikasi pelaku kekerasan seksual dengan korban anak di bawah umur. Dasar kami adalah keterangan saksi dan alat bukti yang ada,” kata Vega.
Bocah Mandiri
Di tembok rumah, termuat tulisan tangan DC. Anak kedua pasangan ADNK-SA itu menulis namanya, lalu nama kakak, mama, dan papa yang diapit gambar hati menggunakan spidol warna hitam. Tulisan tersebut menggambarkan betapa sayangnya bocah perempuan itu terhadap keluarga.
Menurut S, sang kakek, yang tinggal bersama DC sekeluarga, cucunya tersebut sangat dekat dengan dirinya. Apalagi, ADNK, ayah DC, bekerja di kecamatan yang berbeda di Banyuwangi dan pulang seminggu sekali.
’’Kalau tidak main sama kakaknya (BT, 11), setiap hari ya nggelibet sama saya,” ucapnya.
DC, lanjut S, bocah mandiri. Dia biasa mencuci pakaiannya sendiri. Apalagi, ibunya mulai membatasi aktivitas fisik lantaran hamil tua.
Hukuman Mati
Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Nahar mengatakan, pelaku terancam hukuman berat jika terbukti melakukan tindak pidana kekerasan seksual (TPKS). Apalagi bila kekerasan yang dilakukan telah direncanakan dan mengakibatkan korban anak meninggal.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
