
BARANG BUKTI: Dari kiri Kabidhumas Polda Jatim Kombes Dirmanto, Dirreskrimum Kombes Farman, Wadireskrimum AKBP Suryono menunjukkan celurit para pelaku. (HUMAS POLDA JATIM)
JawaPos.com – Motif penganiayaan di Desa Ketapang Laok, Kecamatan Ketapang, Sampang, Jawa Timur, Minggu (17/11) diungkap polisi. Kejadian yang menewaskan Jimmy Sugito Putra, saksi salah seorang pasangan calon (paslon) bupati-wakil bupati Sampang, itu dipicu isu pemukulan terhadap tokoh agama setempat.
Dirreskrimum Polda Jatim Kombespol Farman menjelaskan, permasalahan berawal dari kunjungan mendadak Slamet Junaidi, salah satu calon bupati, ke Padepokan Babussalam. Kedatangannya bertujuan untuk sowan ke pemilik padepokan. Dari situlah kesalahpahaman terjadi hingga memicu peristiwa berdarah itu.
Jimmy, korban tewas, menjadi sasaran. Dia dikeroyok hingga tewas oleh sejumlah orang yang membawa celurit.
”Berdasar penyelidikan, tiga pelaku kemudian diamankan,” ujar Kombespol Farman.
Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Dirmanto menuturkan, upaya mencegah aksi balasan sudah dilakukan. Salah satunya dengan mengumpulkan tokoh masyarakat dan paslon yang ikut kontestasi beserta tim pemenangannya. Mereka diminta menahan diri. ”Sudah dilakukan deklarasi damai dipimpin langsung oleh Bapak Kapolda,” ungkapnya.
Pada bagian lain, peneliti utama The Republic Institute Sufyanto menengarai ada agen-agen lokal yang mengendalikan pemilu di Sampang. Mereka inilah yang bisa menentukan hasil pemilu. ”Karena itu, penyelenggara pemilu harus tegas. Jangan mau dikendalikan oleh agen-agen lokal itu,” katanya.
Sufyanto punya kenangan tersendiri saat Pemilu 2014 di Sampang. Saat itu dia menjabat ketua Bawaslu Jatim. Menurut Sufyanto, kala itu ada 17 TPS di Sampang yang bermasalah. ”Di 17 TPS itu tidak pernah ada pemilu. Kotak suara dan tinta masih tersegel. Tapi, hasilnya sudah ada,” katanya. Bawaslu lantas merekomendasikan pemungutan suara ulang.
Namun, rekomendasi itu tidak berjalan lancar karena semua anggota KPPS mengundurkan diri. Bawaslu akhirnya meminta agar PPK se-Sampang diturunkan untuk menggantikan tugas KPPS. Ironisnya, saat hari H coblosan, tidak ada satu orang pun yang datang ke TPS. ”Akhirnya kita nyatakan disclaimer. Hasil pemilu tidak bisa dihitung karena memang tidak pernah terjadi proses pemilu,” ujarnya. katanya.
Prediksi Cuaca
Komisioner KPU Idham Holik mengatakan, potensi hujan dalam sepekan ke depan sudah dimitigasi. Pihaknya telah mengeluarkan SOP terkait pengelolaan logistik pilkada. ”Insya Allah surat suara yang ada di TPS nanti dalam kondisi aman, kondisi utuh,” ujarnya.
Jika situasi di TPS tidak memungkinkan digelar pemungutan atau penghitungan suara, petugas diperbolehkan memindahkan lokasi setelah berkoordinasi dengan pengawas dan tokoh masyarakat. Pilihannya bisa di sekolah, fasilitas publik, atau bahkan rumah warga. Yang penting, kondisinya memungkinkan. ”Yang memungkinkan tidak terkena hujan,” imbuhnya. (edi/far/c19/oni)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
