Ilustrasi perundungan anak.
JawaPos.com - Seorang anak berinisial MRM, 8, yang masih duduk di bangku kelas 2 SD di Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dibully atau dirundung oleh anak lain yang lebih tua darinya saat bermain PlayStation (PS). Sang anak dirundung dengan cara dipukuli hingga sempat diinjak kepalanya.
Kejadian itu terekam oleh kamera ponsel dan sempat viral di media sosial. Ibu korban, Sadiah, 30, menceritakan, peristiwa itu terjadi pada Jumat (29/9) lalu sekitar pukul 14.00 WIB siang. Saat itu, anaknya tengah bermain PS dengan pelaku anak di rentalan.
"Kami tahu dia digebukin sama temannya di (status) WA. Jam 22.00 WIB, ayahnya tumben banget itu lihat WA. Saya lagi ngelayanin, ada yang beli (dagangan) terus suami saya teriak 'Dek ini apaan?' 'Apanya?' 'Ini anak elu digebukin, lu engak tahu?'" ucapnya menirukan percakapannya dengan suaminya saat itu kepada wartawan, Senin (2/10).
Setelah itu, ia melihat video tersebut dan benar bahwa anaknyalah yang ada di dalam rekaman video tersebut. Pelaku anak sendiri diketahuinya berinisial RM dan duduk di bangku kelas 6 SD.
"Saya lihat, saya kaget. Maksudnya digebukinnya enggak wajar. Kayak orang maling," kata Sadiah.
Setelah mengalami perundungan itu, ia mengatakan bahwa MRM tak bercerita apa-apa padanya. Baru saat melihat video itu penganiayaan itu, ia mendapat informasi bahwa awalnya korban dan pelaku sedang bermain PS dengan taruhan jika kalah, maka dijitak.
Hingga beberapa kali bermain, korban terus dalam posisi kalah. Kemudian, ia meminta tolong kepada yang punya rental PS untuk mewakilinya bermain melawan pelaku karena ingin menang. Saat menang melalui penyewa PS itu, korban akhirnya bisa menjitak pelaku. Namun, pelaku tak terima.
"Kirain mah mau ngapain, ternyata (pelaku) berdiri, habis itu dia nonjok sampai liat video aslinya itu," cerita Sadiah.
Keesokan harinya, ia mengatakan langsung melapor ke pihak RT RW sekitar dan menceritakan hal yang menimpa anaknya tersebut. Setelah dipertemukan dengan beberapa anak yang ada di lokasi kejadian, ia dan suaminya memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut ke Polres Metro Jakarta Barat.
"Kata suami saya gak mau damai, saya gak mau. Nanti kalau kita damai, takutnya ada korban-korban lain," tandas Sadiah.