Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 6 Juni 2025 | 02.30 WIB

Hotspot Terus Bermunculan, Menhut Minta Jangan Sampai Ada Bandara yang Ditutup Akibat Asap Karhutla

Menhut Raja Juli Antoni meninjau kelengkapan alat petugas dalam mengantisipasi Karhutla di Pontianak, Kamis (5/6). (Humas Kemenhut) - Image

Menhut Raja Juli Antoni meninjau kelengkapan alat petugas dalam mengantisipasi Karhutla di Pontianak, Kamis (5/6). (Humas Kemenhut)

JawaPos.com - Berdasar data di laman SiPongi milik Kementerian Kehutanan (Kemenhut), titik panas atau hotspot terus bermunculan. Data hotspot itu mengindikasikan adanya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kemenhut meminta jangan ada ego sektoral dalam penanganan karhutla di tanah air.

Menhut Raja Juli Antoni menceritakan, pada tahun-tahun yang lalu bandara di Pontianak ditutup hampir sebulan akibat tertutup asap tebal karhutla. "Kemudian ada ibu ayah orang tua kita banyak yang sesak napas. Anak-anak tidak bisa bersekolah," kata Raja Juli Antoni saat memimpin apel persiapan penanganan Karhutla di kantor Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) di Pontianak pada Kamis (5/6). 

Dia menekankan apel tersebut sebagai upaya melaksanakan quick response bila terjadi karhutla. Masyarakat harus diingatkan kembali harus hati-hati. Jangan terlibat pada kebakaran hutan dan lahan. Sebaliknya, bersama-sama mengantisipasi menekan angka karhutla di Kalbar dan daerah lainnya.

Titik panas atau hotspot diantaranya muncul di pulau Kalimantan bagian timur. Kemudian di pulau Sumatera bagian tengah. Lalu juga ada di pulau Jawa bagian timur. Titik hotspot umumnya berwarna kuning atau di level medium.

Lebih lanjut Raja menyebutkan diperlukan kolaborasi dan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat, daerah hingga lembaga terkait. Kolaborasi itu bahkan harus diperkuat dalam mencegah dan menangani Karhutla. Dia meminta agar seluruh pihak meruntuhkan ego-ego sektoral yang masih ada.

Dia menekankan ada tiga aspek yang sangat penting. Yaitu kolaborasi dan koordinasi yang makin baik antara pihak pemerintah pusat dan daerah, antara kementerian dan lembaga, BMKG, TNI, Polri, bekerja sama bahu membahu mengatasi karhutla. "Tembok-tembok ego sektoral kalau masih ada mohon segera mungkin diruntuhkan," tuturnya.

Politisi PSI itu menyebut adanya ego sektoral nantinya dapat membuat masyarakat menjadi korban. Sehingga menurutnya kolaborasi perlu ditingkatkan agar terus menurunkan angka karhutla. "Semua rakyat Indonesia akan jadi korban, oleh karena itu kita tingkatkan kolaborasi keberhasilan kita juga untuk terus menurunkan angka Karhutla," tuturnya.

Raja mengingatkan aspek lain yang sangat penting yaitu penegakkan hukum yang efektif. Serta adanya partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan. "Ingatkan kembali ke masyarakat betapa sedih nestapanya ketika kondisi asap menyelimuti Kalbar beberapa tahun lalu, sehingga jangan bermain api," ujarnya. (wan)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore