Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Agustus 2021 | 22.14 WIB

Ikatan Dokter Anak Jatim Tolak PTM pada 30 Agustus

Pelaksanaan PTM di SMPN 1 Surabaya. Dipta Wahyu/JawaPos - Image

Pelaksanaan PTM di SMPN 1 Surabaya. Dipta Wahyu/JawaPos

JawaPos.com–Pembelajaran tatap muka (PTM) di Jawa Timur akan diselenggarakan pada Senin (30/8). Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menolak penyelenggaraan PTM itu.

Ketua IDAI Jatim Sjamsul Arief mengatakan, seharusnya PTM belum bisa diselenggarakan. Alasannya adalah kasus Covid-19 baru menurun selama 1 bulan.

”Secara prinsip saya tidak setuju. PTM harusnya belum di Jatim. Soalnya baru turun 1 bulan. Harusnya belum Senin (30/8) besok,” tutur Sjamsul Arief ketika dihubungi pada Sabtu (28/8).

Penolakan Sjamsul itu berdasar pada faktor epidemiologis. Dia mengakui, kasus positif Covid-19 di Jatim memang menurun selama Agustus. Tapi bukan berarti PTM bisa langsung diselenggarakan.

”Kalau secara epidemiologis itu ya belum. Baru saja turun soalnya. Turunnya belum lama. Agustus baru turun. Ini baru sebulan turun lho,” ucap Sjamsul Arief.

Per 23 Agustus, sebanyak 4557 anak di Jatim dinyatakan positif Covid-19. Sedangkan 5.525 memiliki kontak erat dengan pasien Covid-19.

”Minggu lalu ada 50 anak yang dinyatakan positif Covid-19. Sejak awal pandemi, terdapat 38 anak yang meninggal dunia karena Covid-19,” Beber Sjamsul Arief.

Sjamsul mengingatkan seluruh pihak untuk mengantisipasi munculnya gelombang Covid-19 berikutnya. Kasus turun bukan berarti Covid-19 berakhir.

”Harus antisipasi gelombang baru. Mestinya ada turun dan naik lagi. Secara medis ya belum. Jangan dulu PTM,” tegas Sjamsul Arief.

Kapan PTM bisa diselenggarakan? Sjamsul mengatakan, setelah kasus Covid-19 harus turun selama 2 bulan. ”Jadi Agustus ini turun. September turun. Baru Oktober buka (PTM). Tapi ini baru sebulan turun,” tutur Sjamsul Arief.

Salah stau kekhawatiran bila PTM dibuka adalah penularan yang makin masif. Sebab, varian delta bisa menularkan virus pada orang yang lebih banyak.

”Khawatirnya kalau ini, 1 orang bisa menularkan 8–9 orang. Kalau tipe Wuhan asli (bukan varian delta) kan 1 orang 2–3, orang. Sekarang kan penularannya banyak,” kata Sjamsul Arief.

Sjamsul juga mempersoalkan siswa yang belum divaksinasi secara keseluruhan. Seharusnya, bukan hanya fokus vaksinasi guru dan tenaga kependidikan.

”Muridnya saja belum semua divaksin. Itu kan baru berapa persen guru yang divaksin. Syaratnya paling tidak angkanya harus landai. Vaksin guru dan siswa sudah semua. Pegawai administrasi, tenaga pendidik, yang interaksi sama siswa. Semua,” papar Sjamsul Arief.

Kalaupun PTM tetap dilaksanakan, Sjamsul menekankan pada mitigasi. Misalnya dengan membuat tempat cuci tangan. ”Sirkulasi udara harus dilihat. Jangan tertutup. AC jangan dipakai. Siswa jangan masuk semua. Harus gantian,” terang Sjamsul Arief.

Sjamsul mengaku belum ada komunikasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. ”Dulu saja waktu sebelum ada gelombang delta. Bukan dispendik tapi kotamadya,” ucap Sjamsul Arief.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore