
PEKERJA KERAS: Ida Ayu Riski Susilowati rela berjualan cilok demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah.
JawaPos.com - Ida Ayu Riski Susilowati, siswa SMK Bhakti Karya, Karanganyar, Jateng rela berjualan cilok demi tetap bersekolah dan membiayai hidup. Bahkan, tanpa malu atau pun canggung ia juga menjajakan cilok di lingkungan sekolahnya.
Ia memang dikenal sebagai pribadi pekerja keras. Dia tidak pernah ingin dikasihani oleh siapa pun. Termasuk oleh ibunya sendiri, Tumiyati, 52. Bahkan untuk biaya sekolah dan hidup sehari-hari, Ida begitu ia akrab disapa ingin menggunakan uang dari jerih payahnya sendiri.
Karena itulah Ida pun rela berjualan cilok. Meski hasilnya tidak seberapa, tetapi setidaknya ia bisa mandiri. Dan itu cukup membuatnya bangga, dibandingkan hanya meminta dari orang tuanya.
Selama ini, Ida memang dikenal memiliki semangat yang tinggi. Sebelum berjualan cilok, sejumlah profesi pernah dilakoni gadis 20 tahun itu. Seperti menjadi tukang semir sepatu dan juga juru parkir. "Apa pun pekerjaan asal halal saya jalankan, dan sebelum sekolah di sini saya jadi juru pakir. Sehari biasanya dapat Rp 35 ribu," terangnya kepada JawaPos.com, Selasa (23/10).
Ia tidak pernah malu dengan pekerjaan-pekerjaan yang dijalaninya itu. Yang penting baginya adalah uang itu bisa untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari. Dan sejak menginjak kelas XI, Ida mulai beralih profesi berjualan cilok.
Keahliannya membuat cilok didapatkannya dari youtube. Ida belajar secara autodidak melalui video yang tersaji di youtube. Mulai bumbu, cara mencampur adonan sampai dengan cara membuat hingga siap dihidangkan. "Kalau bumbu-bumbunya meracik sendiri, itu rahasia," katanya. Untuk modal awal, Ida meminjam uang dari pamannya
sebesar Rp 150 ribu.
Modal itu digunakan untuk membuat keranjang untuk tempat cilok dan kelengkapannya. Selain itu, juga untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Sedangkan sebuah sepeda mini berwarna biru merupakan pinjaman dari bibinya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.
"Dalam sehari biasanya bisa mendapatkan uang Rp 90 ribu, itu buat membeli bahan habis Rp 50 ribu," terang gadis penyuka mata pelajaran bahasa Inggris tersebut.
Keuntungan dari berjualan cilok itu, ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dan sisanya ditabung untuk membayar SPP sekolah. Tidak hanya SPP dirinya saja, tetapi juga SPP adiknya, Sudrajat Ariayat Moko Saputra. Sudrajat duduk di kelas X di SMK yang sama dengan Ida. Untuk uang saku, biasanya Ida memberikan uang hasil penjualan ciloknya.
Tetapi, uang hasil ciloknya pun tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan untuk pembayaran uang sekolahnya. Seperti membayar uang untuk kunjungan Industri yang hampir Rp 1 juta. "Untuk kunjungan industri seperti saya baru bisa membayar dua kali, masih kurang. Ini baru mengumpulkan uang," katanya.
Meski mempunyai kebutuhan yang cukup besar, tidak sekalipun Ida meminta dari ibunya atau saudaranya. "Saya tidak ingin dikasihani, saya tidak mengharapkan bantuan dari siapa pun," pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022