alexametrics

Survei TomTom: Jakarta Alami Penurunan Kemacetan Terbesar di Dunia

17 Juni 2019, 11:21:47 WIB

JawaPos.com – Kemacetan di DKI Jakarta mengalami penurunan selama periode 2018. Hal itu diketahui sesuai dengan temuan TomTom Traffic Index lembaga pengukur kepadatan kendaraan di kota-kota dunia yang dirilis Minggu (16/6) dalam situs websitenya TomTom.com. Di situ disebutkan kemacetan turun hingga 8 persen.

Adanya penurunan index tersebut membuat Jakarta turun 3 level sebagai kita termacet di dunia. Jika pada 2017 lalu berada di peringkat 4, pada 2018 turun ke posisi 7.

Penurun 8 persen itu juga menempatkan Jakarta sebagai kota dengan penurunan index kemacetan terbesar di dunia pada periode tersebut. Level kemacetan ibu kota Indonesia itu semula pada angka 61 persen pada 2017, kemudian menyisakan 53 persen di 2018.

Ilustrasi kemacetan. Penggunaan kendaraan bermotor menjadi salah satu penyebab tingginya emisi karbon.(Dok JawaPos.com)

Dari temuan itu juga disebutkan 15 Februari 2018 menjadi titik tertinggi kemacetan di Jakarta mencapai 95 persen. Kondisi itu diduga karena terjadinya banjir di sejumlah wilayah ibu kota. Tingkat kemacetan terendah sendiri terjadi saat Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada 18 Juni 2018. Kalau itu kemacetan hanya 8 persen.

Dari data TomTom ini diketahui kemacetan tertinggi Jakarta terjadi malam hari pada saat jam kerja usai. Jika di rata-ratakan masyarakat butuh waktu tambah 26 menit untuk sampai ditujuan. Sedangkan untuk di pagi hari butuh waktu tambahan 19 menit.

Pada periode 2018, kota Mumbai, India masih menjadi kota dengan kemacetan terparah yakni 65 persen. Sebaliknya kota Greensboro, Amerika menjadi yang terlengang dengan kemacetan 9 persen. PosIsi Jakarta sendiri terbilang masih cukup baik dibanding dengan kota besar dunia seperti Istanbul, Turki maupun Moskow, Rusia di posisi 5 dan 6.

Ilustrasi. Kemacetan kendaraan di sejumlah ruas jalan. (Dok JawaPos.com)

Plt Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Sigit Widjatmoko mengatakan, penurunan tingkat kemacetan di ibu kota setidaknya disebabkan oleh 8 alasan. Semuanya terkait dengan pengaturan lalu lintas maupun pengembangan transportasi umum.

“Bahwa hasil survei TomTom tersebut adalah berdasarkan perkembangan pembangunan di bidang transportasi oleh pak Gubernur (pemprov DKI),” kata Sigit saat dikonfirmasi, Minggu (16/6).

Lebih lanjut, Sigit berharap untuk survei 2019 ini bisa terus terjadi penurunan kemacetan di Jakarta. Terlebih di tahun ini transportasi umum sudah semakin banyak. Meliputi MRT yang sudah beroperasi, disusul dengan LRT yang mulai melakukam uji publik. “Dan integrasi angkutan umum dalam program Jaklingko bersama Transjakarta sudah berjalan,” pungkasnya.

Ilustrasi Moda Transportasi Massal MRT Jakarta (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Di sisi lain, Sigit percaya survei TomTom ini dapat dipertanggungjawabkan kebenaranannya. Sebab dalam melakukan survei ada prinsip-prinsip ilmiah yang digunakan oleh pembuat survei.

Berikut 8 penyebab penurunan index kemacetan di Jakarta versi Dishub DKI Jakarta:

1. Beroperasinya beberapa under pass dan fly over yang dibangun.

2. Penutupan perlintasan sebidang kereta api.

3. Kebijakan ganjil genap yang diperluas area dan diperpanjang waktunya.

4. Re-design Jalan MH Thamrin dan Sudirman sehingga semakin lebar tanpa adanya jalur lambat.

5. Adanya program Jaklingko yang merangkul angkutan umum dalam manajemen Dishub DKI sehingga tidak ngetem sembarangan karena sudah mengacu pada sistem Ruliah per kilometer.

6. Membuka rute-rute baru untuk area layanan Transjakarta.

7. Menugaskan Transjakarta untuk terintegrasi dengan angkutan perkotaan dan mewadahi program Jaklingko. Termasuk integrasi dengan MRT dan LRT saat beroperasi.

8. Bersama dengan stake holder terkait baik BPTJ maupun Dishub di kawasan Bodetabek untuk bersama-sama mengembangkan transportasi dari dan ke daerah pemukiman ke kota serta ke bandara.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Sabik Aji Taufan



Close Ads