
Kondisi kecamatan Petobo di Kota Palu, yang rusak akibat gempa, Sabtu (6/10). Gempa yang memicu likuefaksi yang membuat perumahan warga bergeser.
JawaPos.com - Masa tanggap darurat atas gempa-tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) akan berakhir pada Kamis (11/10) mendatang. Sementara masih ada ribuan korban yang belum ditemukan. Keluarga berharap sisa empat hari masa tanggap darurat itu dapat dimaksimalkan untuk pencarian dan pengidentifikasian korban hilang.
Terutama yang berada di kawasan terdampak likuefaksi. Misalnya, Petobo dan Balaroa di Kota Palu serta Jono Oge, Mpano, Sidera, Lolu, dan Biromaru di Kabupaten Sigi. Tanah yang menjadi berlumpur pascagempa dan menelan rumah itu diperkirakan juga mengubur korban.
Sebagian keluarga di Balaroa menyesalkan lambannya evakuasi dan identifikasi korban oleh pemerintah. Kondisi tersebut membuat keluarga terus menunggu dalam ketidakpastian.
Keresahan itulah yang dialami Tomo. Warga Perumnas Balaroa tersebut kehilangan ibu, dua adik, dan dua anak. Dia mengungkapkan, proses evakuasi lima anggota keluarganya itu dilakukan sendiri. Hanya dibantu saudara dan para tetangga. "Tidak dibantu petugas SAR," jelasnya kepada Jawa Pos kemarin (7/10). Dari proses evakuasi keluarganya itu, hingga kemarin Tomo belum menemukan Randi Saputra, anak keduanya.
Untuk menemukan anaknya itu, Tomo sudah berkeliling ke berbagai tempat pengungsian. Dia juga sudah mengecek beberapa pemakaman masal korban gempa yang dibuat pemerintah.
Dia menyesalkan soal tidak adanya proses identifikasi korban meninggal yang ditemukan tim SAR. Itu terbukti ketika dia berkunjung ke tempat pemakaman masal di Poboya kemarin. Dia datang ke tempat itu karena mendengar informasi ada pemakaman 30 jenazah anak. "Saya tanya nama yang dikubur siapa tidak ada. Saya tanya ciri korban yang dikubur juga tidak ada," jelas lelaki 45 tahun itu.
Dia menilai, seharusnya tim evakuasi mendata korban yang ditemukan. Jika identitasnya tidak ditemukan, paling tidak baju atau perhiasan yang dipakai dicatat. Kondisi itu perlu untuk menenangkan orang tua yang terus mencari anaknya.
Keterlambatan penanganan itu juga terlihat dari tidak hadirnya tim evakuasi sehari setelah Balaroa rata dengan tanah. Padahal, menurut Tomo, pagi setelah gempa terjadi, banyak korban yang sebenarnya masih hidup. Namun, mereka tidak bisa dievakuasi karena tidak adanya peralatan.
"Banyak yang minta tolong. Tapi, kami tidak bisa menjangkau," jelasnya. Sehari setelah gempa, Tomo dan beberapa saudaranya berhasil mengevakuasi delapan korban. Tujuh di antaranya selamat.
Disinggung soal wacana pemakaman masal, Tomo tidak terlalu mempermasalahkan. Mau dijadikan pemakaman masal silakan. Tidak juga silakan. "Yang pasti, kami butuh kejelasan. Di mana keluarga kami," tuturnya.
Lurah Balaroa Rahmansyah mengatakan, hingga kemarin setidaknya jenazah yang dapat dievakuasi mencapai 200 orang. Mereka tersebar di area titik reruntuhan seluas sekitar 10 hektare. Rahman memaparkan, desanya memiliki tiga area pemetaan. Yakni, wilayah Balaroa inpres, Balaroa perumahan, dan Balaroa kampung. Total penduduknya mencapai 13 ribu jiwa.
Wilayah paling terdampak berada di area Perumnas Balaroa. Dia belum bisa memberikan data terperinci mengenai jumlah penduduk yang selamat dan meninggal. Yang pasti, di area perumnas, penduduk Balaroa tercatat sebanyak 800 KK. "Datanya belum bisa kami pastikan," jelasnya.
Soal area perumnas yang dijadikan pemakaman masal, Rahman belum bisa memberikan jawaban. Soal itu, menurut dia, bergantung keputusan pemerintah pusat. Lurah hanya menjalankannya.
Di tempat terpisah, Arwan, warga Kelurahan Petobo, Palu Selatan, menolak wacana pemerintah menghentikan evakuasi di area terdampak likuefaksi Petobo. Dia masih berharap pemerintah melakukan penggalian. Dengan demikian, kabar puluhan saudara dan kerabatnya yang sampai saat ini belum ditemukan menjadi jelas. "Harus tetap digali karena banyak manusia di dalam (tanah, Red)," ujarnya saat ditemui Jawa Pos.
Berbeda dengan Arwan, tokoh masyarakat Petobo, Jasman, setuju dengan opsi menjadikan lokasi bencana sebagai kuburan masal. Sebab, bila tanah digali, belum tentu kondisi jenazah yang ditemukan nanti utuh. "Kalau digali, nanti malah ada bagian tubuh yang ketarik dan akhirnya putus," ungkapnya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
