Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Mei 2017 | 18.21 WIB

Polarisasi Menuju 2019

Ilustrasi - Image

Ilustrasi


PERTEMUAN Presiden Jokowi dengan para pimpinan media di Istana Merdeka kemarin siang berlangsung gayeng. Dengan sangat gamblang dan lancar, presiden menjelaskan berbagai capaian pembangunan yang telah berjalan. Mulai pertumbuhan ekonomi 2016, pengembangan infrastruktur pelabuhan, hingga pembangunan jalan trans-Papua yang baru saja dia kunjungi. Semua diceritakan dengan sangat lancar, hafal di luar kepala.



Tapi, penjelasan itu terhenti sejenak tatkala presiden mengawali penjelasan tentang penegakan hukum. Suasana hening beberapa saat, setelah itu dia mengungkapkan komitmen pemerintah untuk tetap membubarkan organisasi yang bertentangan dengan Pancasila. Menurut dia, organisasi itu sudah ada selama bertahun-tahun dan tetap dibiarkan. Pembubaran tentu saja melalui prosedur hukum dan saat ini sedang diurus Kemenko Polhukam.



Siapa pun tahu, organisasi masyarakat yang dimaksud presiden adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ormas Islam yang sebenarnya tidak terlalu besar, tapi gaung rencana pembubarannya membuat HTI dibicarakan di mana-mana. Sampai-sampai, presiden membuat suasana hening sejenak untuk memberikan penekanan penjelasan kepada pimpinan media bahwa masalah itu sangat penting.



Entah sudah dihitung konsekuensinya atau belum, publikasi rencana pembubaran HTI dilakukan menjelang pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Pro-kontra pun langsung mengiringi. Sebab, pilkada DKI telah ’’membangun’’ polarisasi masyarakat dengan kasus penistaan agama oleh petahana Basuki Tjahaja Purnama. Mayoritas umat Islam merasa tersakiti dan tidak sedikit yang akhirnya menaruh simpati pada HTI.



Media sosial menyambut peristiwa itu dengan sangat liar. Ada yang mendukung pembubaran, ada pula yang mengkritik pemerintah bersikap lebay. Lebih parah, ada yang membuat analisis bahwa sikap pemerintah sangat reaktif terhadap apa pun yang berbau Islam. Foto dan video perbandingan perlakuan polisi terhadap aksi bela Islam dan aksi peduli Ahok berseliweran di media sosial. Yang satu dibubarkan paksa dengan alasan batas waktu, yang satu lagi dibiarkan sampai malam.



Begitulah, media sosial dengan bebas membuat gambaran dengan framing sesuka hati. Termasuk, membuat kesan reaktifnya Bareskrim Mabes Polri yang memeriksa pengurus Masjid Mujahidin di Surabaya atas laporan dugaan ujaran kebencian dalam sebuah tausiah Subuh.



Bibit polarisasi telanjur tumbuh mengiringi pilkada DKI Jakarta. Harapan bahwa polarisasi itu terurai setelah pilkada usai ternyata tidak terwujud. Saling hujat lewat media sosial dan penggambaran sikap pemerintah yang timpang terhadap kelompok masyarakat tertentu semakin membuka jurang perpecahan. Bukan tidak mungkin, polarisasi itu akan sengaja dijaga oleh pihak tertentu untuk menuju Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.



Sangat penting bagi pemerintah, khususnya presiden, untuk memberikan perhatian lebih dalam masalah polarisasi itu. Mungkin sudah saatnya dicari penasihat yang benar-benar memahami dinamika terbaru kehidupan beragama, khususnya Islam di Indonesia. Penasihat yang membantu membangun jembatan antara pemerintah dan semua kelompok masyarakat, bukan yang malah memutus komunikasi.



Jangan sampai presiden yang merupakan representasi pemerintah dikesankan terbawa dalam polarisasi dan menjauh dari umat. Apalagi jika ujung-ujungnya adalah hajatan politik 2019. (*)


Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore