Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Februari 2017 | 20.01 WIB

Kelapangan Hati Ulama

Ilustrasi - Image

Ilustrasi


CONTOH baik sudah diberikan oleh KH Ma'ruf Amin. Tidak sekadar memberikan maaf, rais am PB NU tersebut juga meminta segenap nahdliyin untuk tenang. Padahal, perlakuan pengacara terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama terbilang tidak pantas untuk sosok sekaliber beliau.



Ahok –sapaan Basuki Tjahaja Purnama– memang juga cepat mengambil langkah minta maaf. Hal yang setidaknya bisa membuat KH Ma'ruf Amin merasa legawa. Itu adalah sebuah blunder bagi Ahok dan timnya. Membuat kesalahan yang tidak perlu dan menimbulkan rasa yang tidak perlu. Sudah seharusnya itu menjadi pelajaran bagi Ahok dan timnya untuk lebih paham dengan siapa dan dalam konteks apa dirinya bertindak, berbuat, serta berkata-kata.



Islah dan emosi yang muncul di kalangan nahdliyin pun cepat mereda. Sekjen ISNU M. Kholid Syeirazi dalam status medsosnya Rabu lalu menyatakan, ”Ahok sudah minta maaf. Ya dimaafkan. Saya baru saksikan videonya di YouTube. NU gak seneng bikin repot. Insya Allah guru kami juga maafkan Ahok. Protes dan pernyataan kita sudah cukup. Sekarang serahkan lagi proses di pengadilan.”



Status itu menjelaskan sikap sejati NU dalam kehidupan berbangsa. Mereka memilih tawassuth (moderat), sebuah sikap yang jauh lebih berat diambil ketimbang sikap ekstrem. Baik ekstrem kiri maupun ekstrem kanan.



Menurut Ketua Umum PB NU Said Aqil Siradj, bersikap tawassuth itu perlu hujah, kecakapan argumentasi, dan kelapangan hati. Sebuah sikap melindungi, mengayomi, dalam kerangka kebinekaan.



Itu menjelaskan bagaimana kiai-kiai NU mengambil sikap ketika diserang. Masih segar dalam ingatan bagaimana KH Mustofa Bisri memaafkan seorang pemuda yang menyerangnya dengan kata-kata tak sopan di Twitter. Bukan balas menghardik, Gus Mus bahkan meminta perusahaan tempat pemuda itu bekerja tidak memecatnya. Persoalan sudah selesai ketika pemuda itu diantar orang tuanya sowan ke Rembang untuk meminta maaf.



Sama dengan yang dilakukan oleh KH Ma'ruf Amin. Beliau tidak sekadar memberikan maaf, tetapi juga meminta kalangan nahdliyin untuk tenang. Sebuah sikap yang patut menjadi panutan semuanya.



Karena itu, sangat mengherankan jika di dalam media sosial masih banyak yang justru memanas-manasi suasana. Bahkan merasa tidak terima. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya banyak yang ingin NU marah terhadap Ahok untuk alasan kepentingan kelompoknya sendiri.



Sudah terlalu banyak energi yang dihabiskan masyarakat dalam pertengkaran politik horizontal itu. Sudah waktunya media sosial kembali menjadi tempat yang menyenangkan. Bukan tempat mengumbar emosi-emosi politik. Sudah waktunya untuk kembali melihat persamaan, bukan perbedaan. Di dunia yang mulai terpolarisasi dengan ekstremisme, yang dibutuhkan adalah kelapangan hati dan cinta kasih seperti yang ditunjukkan para ulama kita. Bukan kegarangan ataupun permusuhan. (*)


Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore