Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 Mei 2026 | 19.07 WIB

Sampah Jakarta 9.000 Ton Setiap Hari, Benarkah Pilah Sampah dari Rumah Bisa Jadi Solusi?

Di RW 07 Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, memilah sampah bukan lagi sekadar slogan, melainkan napas kehidupan sehari-hari. (Ryandi Zahdomo/ JawaPos.com) - Image

Di RW 07 Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, memilah sampah bukan lagi sekadar slogan, melainkan napas kehidupan sehari-hari. (Ryandi Zahdomo/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Ibu Kota sedang berpacu dengan waktu. Setiap harinya, Jakarta memproduksi sampah hingga 9.000 ton. Jika tidak ada perubahan radikal, TPST Bantargebang yang menjadi tumpuan terakhir diprediksi akan mencapai batas maksimalnya dalam waktu dekat.

Apalagi, sebuah laporan dari Institut Emmett, UCLA, mengungkap fakta Bantargebang adalah penyumbang gas metana kedua tertinggi di dunia, mencapai 6,3 ton per jam. Hal ini dipicu oleh komposisi sampah yang didominasi sisa makanan (43%) dan plastik (28%).

Lantas, seberapa efektifkah gerakan pemilahan sampah dari rumah untuk menyelamatkan Jakarta?

Revolusi "Kumpul-Pilah-Olah" Mulai 2026

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menegaskan bahwa pola lama "kumpul-angkut-buang" sudah tidak lagi relevan. Melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, Jakarta resmi memulai transformasi besar-besaran.

"Target utama Gerakan Pilah Sampah adalah mendorong perubahan perilaku masyarakat agar pemilahan dilakukan sejak dari sumber, khususnya rumah tangga, sehingga volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang dapat berkurang secara signifikan dan ke depan hanya sampah residu yang dikirim ke sana," ujar Dudi kepada JawaPos.com, Jumat (15/5).

Langkah ini mendesak karena Jakarta akan menghentikan pola open dumping mulai 1 Agustus 2026. Artinya, hanya sampah yang benar-benar tidak bisa diolah lagi yang boleh masuk ke Bantargebang.

Menambah Napas TPST Bantargebang

Banyak warga bertanya, apakah memilah sampah di dapur benar-benar berdampak? Dudi mengklaim akan sangat signifikan. Dengan memisahkan sampah organik, beban Bantargebang bisa berkurang hampir separuhnya.

"Pelaksanaan pemilahan yang berjalan optimal, maka sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau pakan maggot, sedangkan anorganik bernilai dapat masuk rantai daur ulang. Dengan demikian, hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan yang dikirim ke TPST Bantargebang, semakin kecil residu yang dibuang, maka semakin lambat penumpukan di TPST Bantargebang dan semakin panjang life span fasilitas tersebut," terangnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore