Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 Oktober 2025 | 19.08 WIB

Hujan di Jakarta Ternyata Mengandung Mikroplastik, BRIN: Terdapat Serat Sintetis Ban Kendaraan

Ilustrasi hujan (M Riezko Bima Elko Prasetyo/ANTARA) - Image

Ilustrasi hujan (M Riezko Bima Elko Prasetyo/ANTARA)

JawaPos.com - Fenomena hujan di Jakarta kini tak lagi sekadar air dari langit. Ternyata, air hujan di Jakarta telah mengandung mikroplastik beracun. 

Hal ini tengah menjadi perbincangan hangat publik. Banyak masyarakat yang menganggap hal ini hanyalah berita bohong atau hoaks. Namun siapa sangka, fenomena ini benar-benar telah terjadi di Jakarta.

Hal ini terungkap dalam riset berjudul "The deposition of atmospheric microplastics in Jakarta-Indonesia: The coastal urban area", yang dipimpin oleh Peneliti Ahli Muda Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova.   

Reza menjelaskan, hasil risetnya menemukan partikel plastik halus dalam sampel hujan di wilayah pesisir Jakarta.

"Ya, benar. Beberapa penelitian, termasuk yang dilakukan oleh kami di area pesisir Jakarta, telah menemukan adanya mikroplastik dalam air hujan dan deposisi atmosfer," ujarnya saat dikonfirmasi JawaPos.com. 

Ia menjelaskan, sampel tersebut dikumpulkan dengan penangkap hujan selama beberapa bulan dan kemudian disaring dan diperiksa di laboratorium menggunakan mikroskop dan spektroskopi FTIR.

Menurut Reza, jenis mikroplastik yang ditemukan umumnya berupa serat sintetis seperti poliester dan nilon, serta fragmen kecil dari plastik kemasan.

"Bahkan kami menemukan serat sintetis yang biasanya ada di ban kendaraan. Sumber utamanya berasal dari aktivitas manusia di kota, misalnya abrasi pakaian saat mencuci, gesekan dari ban kendaraan, pembakaran terbuka sampah plastik, dan degradasi plastik di lingkungan," jelasnya.

Reza mengatakan, mikroplastik yang sangat ringan ini bisa terbawa angin, naik ke atmosfer, lalu turun kembali bersama hujan. Ukuran mikroplastik yang sangat kecil membuatnya mudah terhirup atau tertelan tanpa disadari. 

"Mikroplastik ini berukuran sangat kecil (kurang dari 5 mm atau 0.5 cm) bahkan ada yang lebih kecil dari debu (batas mikroplastik itu sampai 1 mikron). jadi mikroplastik ini bisa terhirup atau tertelan tanpa disadari," terangnya. 

Reza mengingatkan bahwa partikel ini bisa memicu berbagai gangguan kesehatan. Jika terhirup oleh tubuh manusia maupun hewan, partikel ini dapat memicu stres oksidatif, peradangan jaringan, dan gangguan metabolik bila paparannya berulang dalam jangka panjang.

Lebih lanjut, mikroplastik juga dapat membawa bahan kimia berbahaya dari proses produksinya maupun dari pencemar lingkungan.

"Mikroplastik juga bisa membawa bahan kimia berbahaya baik dari pabrik saat dibuat (seperti ftalat, BPA) atau pencemar yang menempel di permukaannya (logam berat dan persisten organik pollutant)," papar Reza.

Ia menjelaskan, solusi hujan mikroplastik di Jakarta tidak bisa diatasi dari laboratorium. Tetapi butuh perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup sehari-hari.

"Misalnya mengurangi plastik sekali pakai, bahan tekstil yang ramah lingkungan, mengendalikan debu kendaraan dan ban, memperbaiki pengelolaan limbah, dan memperkuat riset (dari pemantauan atau pengelolaan air hujan yang bisa menyaring partikulat mikroplastik), plus tentu kebijakan pengendalian mikroplastik nasional. Ini stepnya tidak bisa langsung, harus bertahap. Pelan tapi pasti," imbuhnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore