
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (kanan) didampingi istri Endang Nugrahani (kedua kanan) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno (ketiga kanan) menyalami Aparatur Sipil Negara (ASN) di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (08/04/2025). (Hanung Hambara/ Jawa
JawaPos.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono menyampaikan permintaan maaf atas tindakan aparat Satpol PP yang membubarkan aksi damai “Tenda Tolak UU TNI” di depan Gedung DPR RI.
Permintaan maaf disampaikan melalui Ketua Bidang Komunikasi Sosial Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chiko Hakim, lewat akun X resminya.
"Atas nama Gubernur kami mohon maaf atas kejadian ini. Gubernur telah mengevaluasi, menegur jajaran pimpinan terkait, & berkomitmen agar aparat Pemprov memperbaiki cara penanganan & mengedepankan dialog," ujarnya, dikutip Kamis (10/4).
"Terkait cara-cara penanganan yang di luar prosedur akan dipastikan ada sanksi," tulis Chiko.
Sebelumnya, insiden pembubaran aksi tersebut diungkap oleh akun X @barengwarga, yang menyatakan bahwa aksi “Piknik dan Kemah Damai” dibubarkan secara sepihak dan paksa oleh sekitar 30 anggota Satpol PP DKI Jakarta pada Rabu, 9 April 2025 sekitar pukul 17.00 WIB.
“Aksi Piknik dan Kemah Damai kami dibubarkan sepihak oleh aparat,” tulis @barengwarga.
Mereka menjelaskan bahwa pembubaran dilakukan tanpa dialog saat massa masih berada di dalam tenda. Barang-barang pribadi seperti tenda, makanan, dan minuman juga ikut diangkut secara paksa.
Negosiasi antara peserta aksi, Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), dan pimpinan operasi Satpol PP, Teguh B., berlangsung alot. Satpol PP beralasan pembubaran dilakukan karena adanya aduan warga dan penggunaan trotoar yang dianggap melanggar aturan.
Namun peserta aksi menyebut penggunaan trotoar sebagai bentuk relokasi paksa setelah sebelumnya dipindahkan oleh PAMDAL DPR RI.
Dalam peristiwa itu juga terjadi gesekan fisik, termasuk insiden tarik-menarik antara Satpol PP dan peserta aksi perempuan serta ibu-ibu yang mencoba mempertahankan logistik aksi. Salah satu peserta bahkan mengaku dipukul saat berada di dalam tenda.
Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap revisi UU TNI, yang dinilai berpotensi memperluas peran militer dalam kehidupan sipil. Peserta aksi mengecam tindakan aparat dan meminta Gubernur Pramono untuk mengambil langkah tegas terhadap aparat bawahannya yang dinilai melanggar prinsip demokrasi dan hak warga menyampaikan aspirasi.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
