Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 18 Desember 2024 | 18.32 WIB

Psikolog Klinis Sebut Perempuan dan Anak di Jakarta dan Kota Besar Rentan Mengalami Kekerasan Terutama lewat Media Sosial

Psikolog Klinis Ratih Ibrahim. (Istimewa) - Image

Psikolog Klinis Ratih Ibrahim. (Istimewa)

JawaPos.com–Jakarta sebagai kota metropolitan masih belum lepas dari kekerasan. Utamanya, kekerasan perempuan dan anak.

Dalam tahun ini, yang menjadi sorotan adalah kekerasan seksual yang dialami peserta didik di SMKN 56 Jakarta oleh guru. Bahkan, korban dari oknum guru itu ada sebanyak 15 peserta didik.

Psikolog Klinis Ratih Ibrahim menuturkan, banyak warga yang tidak tahu bahwa dirinya korban kekerasan. Hal itu menjadi penyebab seberapa kuat pun usaha untuk memeranginya, kekerasan masih ditemukan.

”Kalau berdasar data Komnas Perempuan, pada 2023 angka kekerasan menurun 12 persen dari 2022, ini data nasional. Kalau kita lihat menurun angka kekerasannya. Tapi, bisa jadi itu angkanya menurun karena faktor yang disembunyikan atau karena manifestasi bentuk kekerasan yang berubah,” jelas Ratih saat menghadiri acara Dunia Tanpa Luka di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Dia menjelaskan, kekerasan di Jakarta sangat berbeda dengan yang terjadi di NTT. Contohnya, kekerasan berbasis media di Jakarta yang cenderung lebih lancar dari kota lain.

”Kota besar kan cenderung canggih teknologinya. Jadi, lebih cepat mem-bully melalui digital. Kalau di daerah mungkin kekerasannya fisik. Sebenarnya sih sama-sama digebukin itu. Jadi, kemungkinan kekerasan masih besar terjadi di kota besar karena akses teknologinya,” kata Ratih.

Lebih lanjut, Ratih juga menjelaskan, kekerasan merupakan bentuk kejahatan yang paling menistakan kehidupan. Utamanya, kekerasan perempuan maupun anak.

”Kepada perempuan, kehidupan dititipkan Allah kepadanya. Sejak anak-anak di kandungannya sampai dia dilahirkan dan bertumbuh menjadi manusia. Kekerasan kepada perempuan adalah kejahatan nyata, yang bukan hanya semata isu perempuan. Kekerasan kepada perempuan adalah kejahatan kemanusiaan yang paling menistakan kehidupan,” tandas Ratih.

Sebagai mitigasi kekerasan, sebanyak 1.500 perempuan pra-sejahtera dari wilayah Jabodetabek di edukasi terkait pentingnya pencegahan kekerasan dalam kegiatan Dunia Tanpa Luka.

”Melalui kegiatan ini, kami ingin menyampaikan bahwa kekerasan tidak boleh dibiarkan dalam bentuk apapun,” terang Founder Komunitas Perempuan Peduli dan Berbagi (KPPB) Meiline Tenardi.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore