Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Oktober 2026 | 18.02 WIB

Upaya Mengakhiri Penderitaan Hewan di Penangkaran, Bawa Dampak Positif bagi Manusia

gambar ilustrasi gajah dari magnific

JawaPos.com – Kesadaran masyarakat terhadap kesejahteraan hewan terus berkembang, termasuk mengenai dampak buruk penangkaran terhadap mamalia besar seperti gajah dan paus beluga.

Dalam artikel Psychology Today, ahli perilaku hewan Marc Bekoff, Ph.D., bersama penulis sains Shubhobroto Ghosh menyoroti dua perkembangan penting: penurunan permintaan wisata naik gajah di Amer Fort, India, serta meningkatnya perhatian terhadap nasib paus beluga yang pernah dipelihara di Marineland Niagara, Kanada.

Keduanya menunjukkan bahwa perubahan pandangan masyarakat dapat mendorong perbaikan kesejahteraan satwa. 

Di Amer Fort, Jaipur, Rajasthan, permintaan wisata naik gajah dilaporkan turun sekitar 70 persen dalam tujuh tahun terakhir.

Data yang dikutip dalam artikel menunjukkan jumlah wisatawan yang menggunakan layanan tersebut turun dari 67.018 orang pada 2024–2025 menjadi 48.474 orang pada 2025–2026.

Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi fisik dan psikologis gajah yang digunakan untuk hiburan.

Organisasi perlindungan hewan telah lama mengampanyekan penghentian aktivitas tersebut karena gajah dapat mengalami cedera kaki, keterbatasan ruang gerak, serta tekanan akibat tidak dapat menjalani perilaku alaminya.

Bekoff dan Ghosh menjelaskan bahwa gajah merupakan hewan cerdas yang memiliki kehidupan sosial dan emosional kompleks.

Dalam kondisi penangkaran yang tidak memenuhi kebutuhan perilakunya, gajah dapat menunjukkan gerakan berulang yang tidak normal, seperti berjalan mondar-mandir atau menggoyangkan tubuh terus-menerus.

Kurangnya kesempatan untuk berjalan jauh, bermain, berinteraksi dengan kelompoknya, dan beristirahat secara memadai dapat mengganggu kesejahteraan mereka.

Karena itu, penurunan permintaan wisata semacam ini dinilai sebagai perkembangan positif bagi upaya perlindungan gajah.

Persoalan serupa juga terlihat pada paus beluga dan lumba-lumba yang pernah dipelihara di Marineland Niagara, Kanada.

Setelah tempat tersebut ditutup dan menyatakan kebangkrutan pada 2024, nasib puluhan paus beluga serta empat lumba-lumba hidung botol menjadi perhatian kelompok perlindungan hewan.

Perdebatan muncul mengenai lokasi pemindahan yang tepat, terutama karena pemindahan ke fasilitas komersial lain tidak selalu menjamin kondisi hidup yang lebih baik.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore