Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Oktober 2026 | 06.49 WIB

Diplomasi Indonesia di Tangan Arrmanatha, Ada Harapan Kemlu Lebih Berpengaruh

Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir. (dok. Jawapos.com)

 

JawaPos.com - Pergantian Menteri Luar Negeri (Menlu) dari Sugiono kepada diplomat karir Arrmanatha Nasir membuka harapan agar Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memiliki peran yang lebih kuat dalam menentukan arah diplomasi Indonesia. 
 
Pengalaman Arrmanatha di PBB, jaringan dan rekam jejak diplomatik yang dimilikinya dinilai bisa menjadi modal untuk membuat Indonesia tidak sekadar hadir dalam forum internasional, tetapi ikut membawa agenda dan membangun koalisi.
 
Dosen Hubungan Internasional Universitas Al Azhar Indonesia sekaligus Kandidat Doktor Hubungan Internasional Center for Policy Research Universiti Sains Malaysia, Pizaro Gozali Idrus, mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki modal diplomatik yang cukup besar.
 
Indonesia memiliki posisi di ASEAN, G20, BRICS, PBB, serta berbagai forum Global South. Persoalannya kini adalah bagaimana posisi tersebut diterjemahkan menjadi pengaruh.
 
"Saya kira kapasitasnya masih ada. Indonesia punya posisi di ASEAN, G20, BRICS, PBB, dan berbagai forum Global South. Tinggal persoalannya, kita mau cuma aktif hadir atau benar-benar membawa agenda sendiri," kata Pizaro dihubungi JawaPos.com, Kamis (1/10).
 
Menurut dia, pengalaman Arrmanatha sebagai diplomat, termasuk pengalamannya di PBB, dapat menjadi salah satu modal untuk menjawab persoalan tersebut.
 
Pizaro menilai pengalaman Arrmanatha di PBB tidak hanya penting karena rekam jejaknya dalam diplomasi multilateral, tetapi juga karena jaringan yang dapat digunakan untuk membangun dukungan antarnegara.
 
"Pengalaman Arrmanatha di PBB bisa cukup penting di sini. Dia punya pengalaman negosiasi dan jaringan diplomatik untuk membangun koalisi, bukan cuma merespons agenda negara lain," ujarnya.
 
Kemampuan membangun koalisi menjadi penting ketika Indonesia ingin meningkatkan pengaruhnya dalam berbagai persoalan global. Menurut Pizaro, Indonesia perlu bergerak dari posisi sebagai agenda taker menjadi agenda setter.
 
Artinya, Indonesia tidak cukup hanya memberikan pernyataan ketika krisis terjadi. Indonesia perlu memiliki inisiatif sendiri, menawarkan mekanisme penyelesaian, dan mengajak negara lain mendukung agenda tersebut.

Gaza dan Konflik AS-Iran Jadi Ujian

Pizaro melihat isu Palestina, khususnya situasi Gaza, serta konflik AS-Iran sebagai dua persoalan yang dapat menjadi ujian awal bagi diplomasi Indonesia di bawah Arrmanatha.
 
Untuk Palestina, Indonesia dinilai sudah memiliki modal politik yang kuat karena selama ini konsisten mendukung kemerdekaan Palestina.
 
Namun, menurut Pizaro, tantangannya adalah menerjemahkan posisi politik tersebut menjadi kebijakan yang lebih konkret.
 
"Isu yang bisa jadi pembuktian menurut saya justru genosida Gaza dan konflik AS-Iran. Di Gaza, Indonesia sebenarnya punya modal politik yang kuat. Indonesia sudah lama konsisten mendukung Palestina," kata Pizaro.
 
Ia menilai publik kini tidak hanya membutuhkan pernyataan mengenai Palestina, tetapi juga ingin melihat kebijakan yang memiliki ukuran dan dampak yang jelas.
 
"Publik itu menuntut policy yang real, terukur, bukan cuma statement," ujarnya.
 
Menurut Pizaro, posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, anggota ASEAN, serta salah satu negara yang memiliki sejarah kuat dalam Gerakan Non-Blok dapat menjadi modal untuk membangun dukungan internasional.
 
"Saya kira kalau kita ada terobosan dalam isu Palestina, dunia akan ikut kita," katanya.
 
Karena itu, keberhasilan diplomasi Indonesia dalam isu Palestina nantinya tidak hanya dapat dilihat dari seberapa keras pernyataan yang disampaikan, tetapi dari kemampuan Indonesia membangun koalisi dan mendorong negara lain bergerak bersama.

Konflik AS-Iran Juga Menguji Peran Indonesia

Konflik AS-Iran menjadi persoalan lain yang dapat menguji kemampuan diplomasi Indonesia.
 
Arrmanatha sebelumnya pernah menyampaikan bahwa Indonesia siap mendorong pihak-pihak yang bertikai kembali ke meja perundingan. Tawaran Indonesia untuk memainkan peran sebagai mediator juga masih terbuka.
 
Pizaro menilai posisi tersebut perlu diterjemahkan menjadi langkah diplomatik yang lebih konkret.
 
"Nah, ini bisa jadi ujian. Apakah Indonesia cuma menyerukan perdamaian, atau bisa benar-benar membangun koalisi dan menawarkan mekanisme penyelesaian?" Lanjutnya.
 
Indonesia, menurut dia, memiliki kesempatan menggunakan jaringan diplomatiknya untuk menggalang dukungan negara-negara Global South.
 
Jika Indonesia mampu menginisiasi forum, membangun dukungan, kemudian membawa proposal konkret ke PBB atau forum internasional lain, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa diplomasi Indonesia mulai memainkan peran yang lebih aktif.
 
"Kalau Indonesia bisa menginisiasi forum, membangun dukungan negara-negara Global South, lalu membawa proposal konkret ke PBB atau forum internasional lain, itu baru menunjukkan pergeseran dari agenda taker menjadi agenda setter," kata Pizaro.

Harapan Kemlu Lebih Kuat dari Dalam

Harapan terhadap kepemimpinan Arrmanatha juga datang dari latar belakangnya sebagai diplomat karir.
 
Pizaro menilai pengalaman panjang di lingkungan Kemlu dapat membuat koordinasi internal kementerian lebih mudah. 
 
Arrmanatha telah mengenal banyak diplomat dan jajaran di kementerian tersebut sebelum menduduki posisi Menlu.
 
"Selain itu, Arrmanatha juga punya posisi yang lebih kuat di kalangan internal Kemlu sendiri," ucap Pizaro.
 
"Penerimaan Arrmanatha di internal Kemlu tampaknya lebih kuat dibandingkan Sugiono. Karena dia merupakan diplomat karier, dia sudah kenal karyawan Kemlu, dekat dengan jajaran diplomat Kemlu," kata Pizaro.
 
Menurut dia, kondisi tersebut membuka harapan agar harmonisasi internal Kemlu menjadi lebih baik dan dapat mendukung proses perumusan kebijakan luar negeri.
 
Namun, modal tersebut tetap perlu dibuktikan melalui kebijakan. Pizaro menilai pergantian Menlu baru akan benar-benar terasa apabila Kemlu memiliki ruang lebih besar dalam menyusun pilihan kebijakan sebelum keputusan politik luar negeri ditetapkan.
 
Meski demikian, pada akhirnya, Pizaro melihat peran Arrmanatha akan sangat menentukan apakah pergantian Menlu menghasilkan perubahan dalam praktik diplomasi Indonesia.
 
"Jadi menurut saya, genosida Gaza dan konflik AS-Iran bisa jadi test case. Ini bukan soal seberapa keras Indonesia bersuara, tapi apakah suara itu bisa menghasilkan agenda dan mendorong negara lain ikut bergerak," tegasnya.
 
Ia menilai Indonesia memiliki kapasitas untuk memainkan peran tersebut. Persoalannya adalah apakah kapasitas itu akan digunakan untuk membangun agenda diplomasi yang lebih aktif.
 
"Saya yakin Indonesia mampu, tinggal apakah kita mau," kata Pizaro.
 
Dalam konteks tersebut, Arrmanatha diharapkan tidak hanya menjadi penyampai kebijakan Presiden di panggung internasional, tetapi juga ikut membentuk pilihan kebijakan luar negeri Indonesia.
 
"Dan di situlah peran Arrmanatha penting yang bukan cuma jadi messenger kebijakan Presiden, tapi bisa menjadi policy shaper yang membantu Indonesia menawarkan solusi dan membangun koalisi internasional," pungkas Pizaro.
 
Dengan modal pengalaman diplomatik, jaringan internasional, serta kedekatan dengan lingkungan internal Kemlu, Arrmanatha kini memiliki ruang untuk membuktikan apakah pergantian Menlu tersebut dapat membawa perubahan terhadap cara Indonesia menjalankan diplomasi.
 

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore