Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 September 2026 | 04.12 WIB

Google Garap Proyek Penyerapan Karbon Terbesar di Brasil untuk Tekan Emisi AI

Logo Google dalam konferensi pers di Berlin, Jerman / Foto: (Reuters) - Image

Logo Google dalam konferensi pers di Berlin, Jerman / Foto: (Reuters)

JawaPos.com — Google memperluas investasi teknologi iklim dengan mendukung proyek pengurangan emisi di Brasil yang menjadi kesepakatan penyerapan karbon terbesar perusahaan hingga kini. Proyek yang dikembangkan bersama Terradot ini menggabungkan pengurangan metana dari sawah dengan penyerapan karbon dioksida dari atmosfer dalam satu skema berskala besar.

Proyek tersebut mencakup lebih dari 200.000 hektare lahan di Rio Grande do Sul, Brasil bagian selatan. Wilayah itu akan menjadi lokasi proyek pelapukan batuan yang dipercepat atau enhanced rock weathering terbesar hingga saat ini. Metode tersebut mempercepat proses alami ketika jenis batuan tertentu menyerap karbon dioksida dari atmosfer setelah dihancurkan dan diaplikasikan ke lahan.

Dilansir dari Reuters, Kamis (17/9/2026), inisiatif itu menjadi proyek pertama dalam skala sebesar ini yang menggabungkan pengurangan metana dan penyerapan karbon. Kepala Carbon Removal Google Randy Spock mengatakan pendekatan tersebut diperlukan karena kedua jenis emisi memiliki karakter berbeda. 

“Kita perlu melakukan keduanya. Kita tidak memiliki kemewahan untuk memusatkan seluruh sumber daya hanya pada polutan super yang berumur pendek, atau seluruh sumber daya hanya untuk memperluas penyerapan karbon jangka panjang,” ujarnya.

Metana menjadi perhatian karena gas rumah kaca itu memanaskan atmosfer lebih cepat daripada karbon dioksida, meski bertahan lebih singkat. Mengurangi metana dapat memperlambat laju pemanasan dalam jangka lebih dekat, sedangkan penyerapan karbon dibutuhkan untuk menangani akumulasi karbon dioksida yang telah berada di atmosfer selama berabad-abad. Sawah menyumbang sekitar 10–12 persen emisi metana global, berdasarkan penilaian Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2021.

Dari proyek itu, Google menargetkan terciptanya kredit pengurangan metana sebanyak 1 juta metrik ton pada 2030. Secara terpisah, proyek tersebut juga ditargetkan menghasilkan 1 juta ton kredit penyerapan karbon pada 2040. Porsi penyerapan karbonnya mencapai 10 kali lipat dibandingkan proyek pelapukan batuan sebelumnya. Kedua jenis kredit akan dihasilkan dan diverifikasi secara terpisah.

Skala proyek mencerminkan dorongan perusahaan teknologi besar untuk memperluas investasi energi bersih dan penyerapan karbon guna menangani emisi yang berkaitan dengan pusat data, termasuk kebutuhan listrik yang meningkat akibat pengembangan kecerdasan buatan. Google sendiri telah menjadi investor Terradot sejak mengambil kepemilikan saham di perusahaan tersebut pada 2024.

Namun, tantangan utamanya tetap berada pada biaya. Harga kredit dalam kesepakatan terbaru tidak diungkapkan. Sebagai pembanding, transaksi Terradot pada 2024 untuk 90.000 ton penyerapan karbon mengindikasikan harga sekitar USD 300 per ton, setara sekitar Rp5,32 juta dengan kurs Rp17.730 per dolar AS. Angka itu masih jauh di atas kisaran USD 100 per ton yang ditargetkan banyak pengembang untuk mendorong permintaan lebih luas.

CEO Terradot James Kanoff mengatakan proyek terbaru akan lebih murah dibandingkan kesepakatan sebelumnya. Meski belum mencapai USD 100 per ton, dia menyebut proyek tersebut sebagai “langkah besar menuju angka itu”. Salah satu sumber biaya adalah proses verifikasi, yang menurut Terradot dapat menambah lebih dari USD100 per ton pada proyek pelapukan batuan. Dengan membiarkan karbon terakumulasi lebih lama sebelum diverifikasi pihak ketiga, biaya itu diharapkan dapat ditekan.

Model tersebut juga dirancang untuk diperluas. Google dan Terradot memperkirakan pendekatan serupa dapat diterapkan di sekitar 1,5 juta hektare sawah di Brasil dan kemudian direplikasi di negara penghasil beras seperti India dan Vietnam. Terradot berencana menjalankan proyek percontohan di sejumlah negara pada 2026 dan menargetkan peningkatan ke skala komersial pada 2028. 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore