Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 September 2026 | 03.11 WIB

Usai AS Akui Operasikan Senjata di Orbit, Rusia Sebut Masih Ada Waktu Cegah Perlombaan Senjata

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menghadiri konferensi pers di Moskwa, Rusia / Foto: (CNA) - Image

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menghadiri konferensi pers di Moskwa, Rusia / Foto: (CNA)

JawaPos.com — Pengakuan Amerika Serikat (AS) bahwa militernya telah mengoperasikan senjata di orbit Bumi membuka babak baru dalam persaingan kekuatan antariksa. Di tengah meningkatnya kemampuan militer di luar angkasa, Rusia menyerukan pembentukan perjanjian internasional yang mengikat secara hukum untuk mencegah perlombaan senjata dan risiko konflik meluas ke orbit.

Pemerintah Rusia menilai peluang untuk membatasi perlombaan itu masih terbuka. Wakil Menteri Luar Negeri Sergei Ryabkov meminta Amerika Serikat dan negara lain mengesampingkan keraguan terhadap gagasan tersebut. Menurut Moskwa, perjanjian itu perlu melarang penempatan senjata ofensif di luar angkasa sekaligus penggunaan atau ancaman penggunaan kekuatan terhadap objek di orbit.

Dilansir dari Reuters, Kamis (17/9/2026), Ryabkov menyampaikan posisi itu dalam konferensi pers di Moskwa setelah Washington mengakui keberadaan kemampuan senjata orbitalnya. Dia mengatakan Amerika Serikat tidak memberi tahu Rusia mengenai kemampuan baru tersebut, meski pengumuman Washington tidak mengejutkan Moskwa karena aktivitas semacam itu telah dipantau.

“Ini bukan hal baru bagi kami; kami memantau semua ini, mencatat semuanya, dan menarik kesimpulan yang diperlukan,” kata Ryabkov. Dia menegaskan Moskwa telah lama mendorong perjanjian yang meniadakan penggunaan kekuatan di luar angkasa atau ancaman kekuatan terhadap objek-objek di sana.

Pernyataan Rusia muncul setelah Kepala Space Force AS Jenderal Douglas Schiess mengungkap bahwa personel militer Amerika telah mengoperasikan senjata di orbit. “Para Guardian, atau personel Space Force AS, saat ini mengoperasikan senjata di orbit yang dapat melindungi Joint Force dari serangan yang memanfaatkan ruang angkasa,” ujar Schiess. Namun, Schiess tidak merinci jenis sistem senjata yang dioperasikan.

Sehari sebelumnya, Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink mengatakan Washington memiliki “senjata pengendali ruang angkasa di orbit yang mampu melindungi Joint Force dari serangan pihak lawan yang memanfaatkan ruang angkasa.” Pengakuan itu menjadi salah satu pernyataan paling terbuka Pentagon mengenai keberadaan senjata di orbit, setelah selama bertahun-tahun Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok mengembangkan kemampuan untuk melindungi maupun mengganggu aset antariksa.

Bagi keamanan global, persoalannya bukan hanya keberadaan senjata tersebut, tetapi bagaimana negara lain menafsirkan kemampuan yang belum dijelaskan secara terbuka. Reuters mencatat bahwa tidak ada negara yang diketahui telah menyerang satelit negara lain secara fisik di orbit. Namun, teknologi antariksa militer kini mencakup kemampuan seperti mengganggu sinyal, menggunakan laser untuk membutakan sensor, hingga mendekati atau menangkap wahana lain.

Perkembangan itu memperbesar risiko dilema keamanan. Ketika suatu negara meningkatkan kemampuan untuk melindungi satelitnya, negara lain dapat melihat langkah tersebut sebagai ancaman dan merespons dengan sistem tandingan. Craig Albert dari Augusta University memperingatkan bahwa tanpa informasi lengkap, pesaing dapat menganggap sistem AS mengancam aset mereka lalu berinvestasi pada kemampuan antiruang atau senjata serupa.

Respons juga datang dari Tiongkok. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun mengatakan Beijing mendukung penggunaan damai ruang angkasa dan menentang perlombaan senjata maupun upaya menjadikannya medan perang. “Kami mendesak AS menghentikan perluasan pembangunan militer di luar angkasa dan menjaga stabilitas strategis global dengan tindakan nyata,” katanya.

Ryabkov sendiri menuduh Amerika Serikat dan negara-negara Barat, khususnya Inggris, selama bertahun-tahun menggunakan alasan yang menurut Moskwa dibuat-buat untuk menghindari pembahasan perjanjian. Dia mengatakan pihak Barat juga berupaya membalikkan keadaan dengan menuduh Rusia melakukan aktivitas yang dinilai mengganggu stabilitas. Pernyataan itu mencerminkan sengketa lama mengenai siapa yang bertanggung jawab atas meningkatnya ketegangan di orbit.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore