Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Agustus 2026 | 03.04 WIB

Tiongkok Kembangkan Strategi Nuklir untuk Pertahanan dari Ancaman Asteroid

Insinyur Tiongkok mengembangkan metode dua tahap untuk menghancurkan asteroid yang mengancam menabrak Bumi menggunakan bom nuklir berkekuatan besar / Foto: (SCMP) - Image

Insinyur Tiongkok mengembangkan metode dua tahap untuk menghancurkan asteroid yang mengancam menabrak Bumi menggunakan bom nuklir berkekuatan besar / Foto: (SCMP)

JawaPos.com — Upaya menghadapi asteroid yang berpotensi menabrak Bumi tidak lagi hanya mengandalkan penumbuk kinetik. Peneliti Tiongkok mengembangkan konsep pertahanan planet yang menggunakan dua wahana dan ledakan nuklir untuk menghancurkan asteroid berukuran lebih kecil atau menggeser lintasan objek yang jauh lebih besar.

Dilansir dari South China Morning Post, Senin (3/8/2026), tim yang dipimpin peneliti dari China Academy of Launch Vehicle Technology di Beijing mengusulkan metode dua tahap. Wahana pertama membawa penetrator logam untuk ditabrakkan ke asteroid dan membuat lubang jauh di bawah permukaannya. Wahana kedua kemudian membawa perangkat nuklir dan memasukkannya ke dalam lubang sebelum diledakkan.

Konsep tersebut mengingatkan pada film Armageddon (1998), tetapi seluruh operasi dirancang menggunakan wahana tanpa awak. Dalam simulasi, ledakan 3 megaton, setara sekitar 200 bom Hiroshima, dapat menghancurkan asteroid berdiameter sekitar 100 meter. Untuk asteroid yang lebih besar, ledakan yang sama dapat digunakan untuk mengubah kecepatannya sehingga lintasannya bergeser dari jalur menuju Bumi.

Pada asteroid berdiameter 1 kilometer, penempatan bom 3 megaton sedalam 30 meter menghasilkan perubahan kecepatan sekitar 30 sentimeter per detik. Hasil itu lebih dari tiga kali perubahan yang diperoleh pada kedalaman 10 meter dan sekitar 110 kali perubahan kecepatan yang dihasilkan misi Double Asteroid Redirection Test (DART) NASA pada 2022.

Temuan itu menjadi relevan karena sebagian asteroid melintasi orbit Bumi dan tidak semuanya mudah dideteksi. Pada 2019, asteroid berdiameter hingga 130 meter melintas sekitar 72.000 kilometer dari Bumi dan baru ditemukan astronom sesaat sebelum mencapai jarak terdekat dengan planet kita. Karena itu, waktu peringatan menjadi faktor penting dalam menentukan metode pertahanan.

NASA sebelumnya menguji DART dengan menabrakkan wahana ke asteroid Dimorphos pada 2022. Misi tersebut memperlambat gerak asteroid sekitar 2,7 milimeter per detik dan membuktikan bahwa tumbukan kinetik dapat mengubah gerak benda langit. Namun, untuk asteroid yang jauh lebih besar atau baru diketahui ketika waktu menuju tumbukan sudah terbatas, satu tumbukan mungkin tidak memberikan dorongan yang cukup.

Di sinilah metode Tiongkok menawarkan pendekatan berbeda. Penetrator membuat lubang terlebih dahulu sehingga perangkat nuklir dapat diledakkan lebih dalam, bukan langsung menghantam permukaan asteroid. Para peneliti menyebut metode tersebut memungkinkan “memilih lokasi pembentukan kawah secara mandiri dan mencapai ledakan dalam”, sehingga menghasilkan “penggabungan energi yang lebih kuat”.

Sebaliknya, ledakan dangkal memiliki “lokasi tumbukan acak, penggabungan energi lemah, serta tuntutan tinggi terhadap ketahanan perangkat nuklir dan waktu detonasi.” Dengan menempatkan perangkat di dalam asteroid, metode dua wahana juga menghindari keharusan perangkat bertahan dari benturan hingga 20 kilometer per detik sebelum diledakkan.

Namun, konsep tersebut masih sebatas simulasi dan membutuhkan kemampuan peluncuran berat untuk mengirim penetrator serta perangkat nuklir ke luar angkasa. Peneliti juga menegaskan strategi itu hanya mungkin jika asteroid terdeteksi cukup dini untuk merancang, meluncurkan, dan menjalankan dua wahana sebelum tumbukan. Dalam simulasi lain, asteroid berdiameter 50 meter dapat dihancurkan dengan ledakan 300 kiloton, setara sekitar 20 bom Hiroshima.

Pengembangan ini menjadi bagian dari meningkatnya perhatian Tiongkok terhadap pertahanan planet. Pada Juli 2026, Beijing juga mengungkap rencana sistem peringatan dini menggunakan teleskop darat dan satelit untuk mendeteksi asteroid berbahaya, serta mengembangkan misi penumbuk asteroid sebelum 2030. 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore