Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 27 Juni 2026 | 05.44 WIB

Meta Yakin ‘Social Learning’ Jadi Jawaban Atas Masalah Privasi Kacamata Pintar 

Andrew Bosworth, Chief Technology Officer (CTO) Meta, berbicara kepada media mengenai kacamata pintar terbaru Meta tanpa merek Ray-Ban / Foto: (Gizmodo) - Image

Andrew Bosworth, Chief Technology Officer (CTO) Meta, berbicara kepada media mengenai kacamata pintar terbaru Meta tanpa merek Ray-Ban / Foto: (Gizmodo)

JawaPos.com — Pergeseran strategi Meta di ranah perangkat wearable kini memasuki fase yang lebih sensitif, ketika perusahaan itu semakin agresif mendorong kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan sebagai kandidat utama pengganti sebagian fungsi ponsel. 

Di balik dorongan tersebut, muncul ketegangan yang tidak sederhana: semakin dekat perangkat ini dengan tubuh pengguna, semakin kabur pula batas antara kenyamanan teknologi dan ruang privasi publik yang dapat terekam tanpa henti.

Meta memperkenalkan sejumlah model kacamata pintar terbaru yang tidak menunjukkan lompatan besar dari sisi perangkat keras, namun menandai perubahan pendekatan pada level positioning produk.

Salah satu langkah yang paling menonjol adalah keputusan untuk tidak lagi menonjolkan merek Ray-Ban dalam lini kacamata pintar, yang sebelumnya menjadi elemen penting dalam membangun daya tarik dan penerimaan konsumen.

Melansir Gizmodo, Jumat (26/6/2026), langkah tersebut tidak dipahami sebagai sekadar penyegaran merek, melainkan perubahan yang memiliki bobot strategis. Dalam laporan tersebut disebutkan, “Meta resmi memiliki beberapa pasangan kacamata pintar baru untuk dipilih, dan meskipun tidak revolusioner dalam fitur atau perangkat keras, mereka mengambil satu keputusan berani: mereka menghapus merek Ray-Ban.”

Di balik perubahan identitas produk tersebut, isu privasi justru menjadi sorotan utama. Meta sendiri selama ini tidak lepas dari kritik terkait pengelolaan data pengguna, mulai dari wacana penggunaan teknologi pengenalan wajah hingga kekhawatiran atas rekaman visual yang dapat menangkap informasi sensitif tanpa kendali penuh dari pihak di sekitar pengguna. Hal ini menjadikan kacamata pintar sebagai salah satu kategori perangkat yang paling sensitif dalam ekosistem teknologi saat ini.

Wakil Presiden Teknologi Meta, Andrew Bosworth, menanggapi kekhawatiran tersebut dengan menekankan bahwa penerimaan publik terhadap teknologi baru akan terbentuk melalui proses sosial. Dia mengatakan, “Saya masih ingat ketika dulu ada kontroversi soal ponsel yang punya kamera. Itu bahkan terjadi sebelum era smartphone seperti sekarang.”

Bosworth menambahkan, “Jadi, ada proses pembelajaran sosial yang harus terjadi. Kacamata ini sangat populer, tampaknya memiliki daya tarik luas, dan orang-orang menggunakannya dengan baik dalam aktivitas sehari-hari… kami berusaha sangat terbuka tentang apa yang bisa dilakukan perangkat ini, dan memastikan bukan hanya pengguna, tetapi juga orang di sekitar mereka merasa nyaman.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan pendekatan Meta yang bertumpu pada gagasan “social learning”, yakni keyakinan bahwa norma sosial akan menyesuaikan diri terhadap kehadiran teknologi baru, termasuk perangkat kacamata pintar yang memiliki kemampuan merekam secara langsung dari wajah pengguna.

Namun, pendekatan ini tidak lepas dari kritik jika dibandingkan dengan sejarah produk serupa. Google Glass, misalnya, pernah mengalami penolakan sosial yang kuat karena dianggap melanggar batas privasi, meskipun secara teknologi dinilai lebih awal dalam memperkenalkan konsep kacamata pintar.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore