
Jamieson Greer, Perwakilan Dagang Amerika Serikat (US Trade Representative/USTR), berbicara kepada wartawan saat mengunjungi fasilitas manufaktur di Warren, Michigan (SCMP)
JawaPos.com - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengguncang perdagangan internasional dengan rencana mengenakan tarif tambahan 10 hingga 12,5 persen terhadap produk dari 60 perekonomian dunia. Kebijakan yang menyasar mitra dagang utama, termasuk Tiongkok dan Uni Eropa, dipandang berpotensi memperluas ketegangan ekonomi global di tengah pemulihan yang masih rapuh.
Dilansir dari South China Morning Post, Senin (8/6/2026), Gedung Putih beralasan kebijakan tersebut ditujukan untuk merespons maraknya praktik kerja paksa dalam rantai pasok global yang dinilai merugikan perdagangan Amerika Serikat. Namun, langkah itu langsung menuai kritik karena dianggap lebih bernuansa politik dan strategi dagang daripada perlindungan hak asasi manusia.
Bahkan, Tiongkok dan Uni Eropa yang selama ini memiliki banyak perbedaan sikap dalam isu perdagangan justru berada di posisi yang sama. Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan tuduhan Amerika Serikat hanyalah dalih untuk, "manipulasi politik."
Sementara itu, Ketua Komite Perdagangan Parlemen Eropa, Bernd Lange, menyebut tuduhan Washington soal isu kerja paksa "benar-benar tidak masuk akal" mengingat Uni Eropa telah memiliki salah satu aturan paling ketat di dunia untuk mencegah produk hasil kerja paksa masuk ke rantai pasok.
Berdasarkan usulan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR), Tiongkok, Jepang, India, Korea Selatan, Australia, Vietnam dan puluhan negara lain berpotensi dikenai tarif 12,5 persen.
Sementara itu, Uni Eropa, Inggris, Kanada dan Meksiko menghadapi tarif 10 persen karena dinilai telah memiliki mekanisme pengawasan, meski dianggap belum diterapkan secara efektif. Reuters melaporkan konsultasi publik dijadwalkan berlangsung pada awal Juli, tetapi banyak pengamat meyakini arah kebijakan itu pada dasarnya telah ditentukan.
Di sisi lain, USTR mempertahankan langkah tersebut. Dalam keterangannya, Perwakilan Dagang Amerika Serikat, Jamieson Greer, menegaskan, "Kegagalan mitra dagang utama kami mengatasi masuknya barang hasil kerja paksa tidak dapat diterima." Pernyataan itu menjadi dasar Washington untuk menggunakan ketentuan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan sebagai landasan hukum kebijakan baru tersebut.
Namun, sejumlah analis melihat persoalannya jauh lebih kompleks. Alih-alih menyasar produk atau perusahaan yang terbukti terkait praktik kerja paksa, kebijakan itu justru diterapkan secara luas terhadap hampir seluruh mitra dagang utama Amerika Serikat. Pendekatan tersebut memunculkan dugaan bahwa isu hak pekerja digunakan sebagai instrumen untuk mempertahankan strategi tarif Trump.
Faktor hukum domestik Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Pada Februari lalu, Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan bahwa penggunaan kewenangan darurat oleh Trump untuk memberlakukan tarif global sebelumnya melanggar hukum federal. Karena itu, kebijakan terbaru dinilai sebagai upaya membangun dasar hukum baru agar agenda tarif tetap dapat dijalankan. Reuters menyebut investigasi Pasal 301 menjadi jalur alternatif setelah hambatan hukum tersebut.
Kritik juga datang dari kalangan pebisnis dan organisasi hak asasi manusia. Sejumlah kelompok menilai tarif tambahan tidak akan menyelesaikan persoalan kerja paksa yang memang masih menjadi tantangan global. Sebaliknya, kebijakan itu justru berpotensi menambah ketidakpastian rantai pasok internasional dan membebani dunia usaha yang sudah menghadapi tekanan biaya serta perlambatan ekonomi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022