Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 Mei 2026 | 05.44 WIB

NASA Pacu Mesin Nuklir untuk Misi Mars 2028, Targetkan Waktu Tempuh Astronaut Dipangkas Jadi Empat Bulan

Ilustrasi misi ke Mars menggunakan sistem propulsi nuklir yang dikembangkan NASA / Foto: (The Conversation) - Image

Ilustrasi misi ke Mars menggunakan sistem propulsi nuklir yang dikembangkan NASA / Foto: (The Conversation)

JawaPos.com — NASA mempercepat pengembangan mesin roket bertenaga nuklir untuk mendukung misi manusia ke Mars pada akhir dekade ini. Percepatan ini menandai perubahan strategis dalam eksplorasi antariksa Amerika Serikat, yang kini menuntut sistem pendorong wahana luar angkasa yang lebih cepat, efisien, dan mampu membawa manusia dalam perjalanan jarak jauh secara aman.

Target utama proyek itu adalah memangkas waktu tempuh perjalanan menuju Mars dari lebih dari enam bulan menjadi sekitar tiga hingga empat bulan. Selain mempercepat perjalanan, teknologi tersebut juga dinilai penting untuk mengurangi paparan radiasi kosmik dan risiko kesehatan yang selama ini menjadi tantangan utama dalam misi antariksa berawak jarak jauh.

Dilansir dari The Conversation, Kamis (14/5/2026), dorongan terhadap propulsi nuklir semakin kuat sejak Jared Isaacman memimpin NASA pada Desember 2025. Isaacman yang dikenal sebagai pendukung eksplorasi antariksa komersial menyatakan teknologi tersebut dapat “benar-benar membuka kemampuan umat manusia untuk menjelajah di antara bintang-bintang.”

Pada Maret 2026, NASA juga mengumumkan rencana peluncuran misi tanpa awak bertenaga nuklir menuju Mars pada akhir 2028. Proyek itu dipandang sebagai bagian dari upaya jangka panjang Amerika Serikat mempertahankan dominasi teknologi antariksa di tengah kompetisi global yang semakin ketat, termasuk dengan Tiongkok dalam pengembangan teknologi luar angkasa generasi baru.

Selama ini, roket konvensional menggunakan bahan bakar kimia untuk lepas dari gravitasi Bumi. Sistem ini terbukti andal, tetapi punya kelemahan besar karena roket harus membawa sendiri bahan bakar pendorong dalam jumlah sangat besar. Akibatnya, semakin jauh misi yang dituju, semakin berat pula roket saat lepas landas, karena sebagian besar massanya justru berasal dari bahan bakar, bukan muatan atau peralatan misi.

Kondisi itu menjadi tantangan serius dalam misi menuju Mars. Selain membutuhkan waktu perjalanan panjang, astronaut juga menghadapi ancaman radiasi kosmik, penyusutan massa otot dan tulang akibat gravitasi mikro, serta keterbatasan logistik selama berada di ruang angkasa. Karena itu, NASA kini mengembangkan dua pendekatan utama propulsi nuklir, yakni propulsi termal nuklir dan propulsi listrik nuklir.

Pada propulsi termal nuklir, reaktor membelah atom uranium untuk menghasilkan panas ekstrem. Hidrogen cair kemudian dipanaskan hingga berubah menjadi gas bertekanan tinggi sebelum ditembakkan melalui nosel guna menghasilkan dorongan. Menurut Departemen Energi Amerika Serikat, teknologi tersebut dapat memangkas waktu perjalanan ke Mars hingga 25 persen sekaligus mengurangi paparan radiasi bagi awak misi.

Sementara itu, propulsi listrik nuklir bekerja dengan memanfaatkan reaktor untuk menghasilkan listrik yang menggerakkan mesin ion. Sistem ini menghasilkan dorongan lebih kecil dibanding roket konvensional, tetapi dapat bekerja terus-menerus selama bertahun-tahun dengan efisiensi bahan bakar sangat tinggi. NASA menggambarkan teknologi itu sebagai pendekatan “maraton”, berbeda dengan propulsi termal nuklir yang lebih menyerupai “lari cepat”.

Misi yang kini menjadi fokus utama adalah Space Reactor-1 Freedom atau SR-1 Freedom, yakni wahana propulsi listrik nuklir yang ditargetkan meluncur pada Desember 2028. Berdasarkan laporan Reuters dan Space, misi tersebut diproyeksikan menjadi wahana antarplanet pertama yang ditenagai reaktor fisi nuklir. Setelah tiba di Mars sekitar satu tahun kemudian, wahana itu dijadwalkan menurunkan muatan Skyfall berupa drone helikopter kecil untuk memetakan permukaan planet merah.

Selain mengembangkan wahana antariksa, NASA juga menguji mesin ion magnetoplasmadinamik berbahan litium yang diklaim memiliki daya dorong hingga 25 kali lebih besar dibanding mesin ion pada misi Psyche. Ilmuwan senior Jet Propulsion Laboratory, James Polk, mengatakan, “Pengujian ini merupakan langkah penting menuju sistem propulsi berdaya tinggi untuk misi manusia ke Mars.”

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore