Logo JawaPos
Author avatar - Image
12 Maret 2026, 22.11 WIB

Strategi Artemis Dirombak, NASA dan Industri Antariksa Swasta Tancap Gas Bawa Manusia ke Bulan pada 2028

ennedy Space Center, Roket SLS (Space Launch System) dengan kapsul Orion, bagian dari misi Artemis II, terlihat di pusat antariksa tersebut. (The Guardian) - Image

ennedy Space Center, Roket SLS (Space Launch System) dengan kapsul Orion, bagian dari misi Artemis II, terlihat di pusat antariksa tersebut. (The Guardian)

JawaPos.com — Upaya Amerika Serikat (AS) untuk kembali mengirim manusia ke Bulan melalui program Artemis memasuki fase baru setelah badan antariksa itu merombak strategi misinya. Di tengah berbagai kendala teknis dan keterlambatan jadwal, sejumlah perusahaan antariksa swasta—seperti SpaceX, Blue Origin, Intuitive Machines, dan Lunar Outpost—tetap melanjutkan pengembangan teknologi yang menjadi bagian penting dari ambisi membawa manusia kembali ke satelit alami Bumi tersebut.

Program Artemis merupakan proyek eksplorasi antariksa terbesar NASA saat ini. Berbeda dengan era program Apollo pada 1960–1970-an yang sepenuhnya dijalankan pemerintah, misi Artemis dibangun melalui kemitraan luas dengan industri antariksa komersial. Perusahaan-perusahaan tersebut mengembangkan berbagai komponen penting, mulai dari roket peluncur dan kendaraan pendarat hingga robot eksplorasi yang akan digunakan untuk mendukung aktivitas manusia di permukaan Bulan.

Dilansir dari The Guardian, Kamis (12/3/2026), administrator NASA Jared Isaacman mengumumkan restrukturisasi strategi program Artemis yang mengubah jadwal pendaratan manusia di Bulan. Dalam skema baru tersebut, misi pendaratan manusia diproyeksikan berlangsung melalui Artemis IV pada 2028 setelah berbagai persoalan teknis membuat program itu melampaui anggaran miliaran dolar serta mengalami keterlambatan selama beberapa tahun.

Keputusan itu berdampak langsung pada berbagai perusahaan yang menjadi kontraktor NASA dalam program Artemis. Salah satunya adalah perusahaan rintisan antariksa Lunar Outpost yang berbasis di Colorado. Perusahaan ini mengembangkan kendaraan robotik eksplorasi bernama Mobile Autonomous Prospecting Platform (Mapp) untuk meneliti debu dan tanah di wilayah kutub selatan Bulan—lokasi yang dinilai berpotensi menjadi tempat pembangunan pangkalan manusia di masa depan.

Chief Executive Lunar Outpost, Justin Cyrus, mengatakan kendaraan penjelajah atau rover tersebut kini diproyeksikan ikut dalam misi Artemis IV bersama para astronaut. “Manusia akan kembali ke Bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun, dan salah satu rover kami akan berada di sana bersama mereka. Itu perasaan yang luar biasa,” ujarnya.

Menurut Cyrus, restrukturisasi program NASA justru membuka peluang lebih luas bagi industri antariksa swasta. “Pengumuman yang lebih luas ini saya dukung sepenuhnya—lebih banyak misi menuju Bulan dengan frekuensi yang lebih tinggi. Penting bahwa NASA kini memiliki rencana konkret untuk mempercepat program tersebut,” ujarnya. 

Namun perjalanan teknologi tersebut tidak selalu berjalan mulus. Rover Mapp sebelumnya sempat mencapai permukaan Bulan pada Maret tahun lalu setelah melakukan perjalanan delapan hari dari Bumi menggunakan wahana pendarat Athena milik perusahaan antariksa Intuitive Machines.

Sayangnya, wahana pendarat tersebut terbalik saat mendarat sehingga rover itu terjebak di dalamnya. “Rover itu berhasil mencapai Bulan dan selamat dari pendaratan yang keras, tetapi kami tidak bisa mengeluarkannya dari ‘garasi’,” kata Cyrus. “Ada kebanggaan karena rover tersebut mampu bertahan dari pendaratan yang sulit, tetapi pada saat yang sama hal itu membuat kekecewaan terasa sedikit lebih besar.”

Meski demikian, Lunar Outpost tetap melanjutkan pengembangan teknologi mereka. Perusahaan tersebut kini menyiapkan berbagai proyek baru, termasuk sistem produksi oksigen dan energi di Bulan serta lengan robotik yang dapat membantu pembangunan pangkalan manusia di permukaan satelit tersebut.

Cyrus menegaskan optimismenya bahwa manusia pada akhirnya akan kembali menjejakkan kaki di Bulan setelah lebih dari setengah abad sejak misi Apollo terakhir pada 1972. “Saat ini kami memiliki lima misi yang dijadwalkan menuju Bulan, dan dalam beberapa minggu ke depan diharapkan ada pengumuman mengenai kendaraan Eagle LTV bersama NASA. Ini merupakan bagian dari rencana bertahap dalam lima tahun ke depan—dan saya pikir itu akan menjadi sesuatu yang sangat luar biasa,” ujarnya.

***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore