
Ilustrasi milisi bersenjata pro-Iran intensifkan serangan balasan ke wilayah teluk yang terafiliasi Amerika Serikat. (Middle East Online)
JawaPos.com - Ketegangan di Timur Tengah semakin meluas setelah milisi bersenjata yang didukung Iran meningkatkan serangan terhadap Israel, Amerika Serikat, dan sekutu mereka.
Gelombang serangan ini disebut sebagai balasan atas operasi militer gabungan AS–Israel terhadap Teheran yang memicu konflik regional baru.
Sejumlah kelompok milisi pro-Iran di berbagai negara Timur Tengah kini terlibat aktif dalam konflik tersebut.
Irak menjadi salah satu front utama dalam perang bayangan yang melibatkan jaringan militan, pasukan khusus, serta serangan udara.
Sejak perang pecah pada akhir pekan lalu dan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, milisi di Irak telah melancarkan puluhan serangan yang menyasar Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania dan Irak.
Serangan itu dilakukan menggunakan drone dan rudal dari berbagai titik di kawasan.
Mengutip Guardian, dalam beberapa hari terakhir, kelompok bersenjata tersebut juga menargetkan infrastruktur milik kelompok oposisi Kurdi Iran yang berbasis di wilayah otonomi Kurdistan di Irak utara.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya memperluas tekanan terhadap pihak-pihak yang dianggap mendukung operasi militer terhadap Iran.
Di sisi lain, Israel dan Amerika Serikat dilaporkan meningkatkan operasi untuk melemahkan kemampuan milisi pro-Iran di Irak.
Upaya tersebut dilakukan melalui serangan udara serta operasi pasukan khusus di lapangan, menurut analis dan mantan pejabat intelijen kawasan.
Irak sendiri telah lama menjadi arena perang proksi antara Washington dan Teheran sejak invasi yang dipimpin AS pada 2003 lalu.
Meski demikian, pemerintah Irak saat ini berusaha menghindari keterlibatan langsung dalam konflik terbaru tersebut.
Banyak milisi yang beroperasi di negara itu berasal dari komunitas Syiah Irak dan memiliki hubungan komando dengan perwira senior Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
