Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani, salah satu pejabat Eropa yang menyerukan agar warga negaranya meninggalkan Iran di tengah memburuknya situasi keamanan (Freepik/Senivpetro)
JawaPos.com - Sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, Spanyol, Italia, dan Polandia, secara terbuka mengimbau warga negaranya untuk segera meninggalkan Iran. Langkah ini diambil seiring memburuknya situasi keamanan di negara tersebut, di tengah gelombang demonstrasi pro dan anti-pemerintah, laporan penangkapan terhadap pengunjuk rasa, serta meningkatnya kekhawatiran akan potensi aksi militer Amerika Serikat (AS).
Dalam beberapa hari terakhir, kementerian luar negeri di sejumlah ibu kota Eropa memperbarui peringatan perjalanan ke Iran. Pemerintah menilai kondisi di negara tersebut semakin tidak stabil dan berisiko bagi warga asing, terutama di tengah eskalasi ketegangan politik domestik dan tekanan geopolitik yang kian tajam.
Dilansir dari Reuters, Kamis (15/1/2026), peringatan muncul ketika otoritas Iran berupaya meredam apa yang mereka sebut sebagai kerusuhan domestik terburuk dalam sejarah Republik Islam Iran. Pada saat yang sama, Teheran juga menghadapi tekanan eksternal, menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berulang kali menyampaikan ancaman kemungkinan intervensi militer jika kekerasan terhadap pengunjuk rasa terus berlanjut.
Italia menjadi salah satu negara yang paling tegas menyuarakan sikapnya. Pemerintah di Roma secara kuat memperbarui seruan agar seluruh warga negaranya meninggalkan Iran sesegera mungkin, dengan menilai situasi keamanan di negara tersebut berada dalam kondisi yang sulit diprediksi.
"Italia dengan tegas memperbarui imbauan kepada seluruh warganya untuk meninggalkan Iran mengingat situasi keamanan di negara tersebut," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Italia. Pemerintah menyebutkan terdapat sekitar 600 warga negara Italia di Iran, sebagian besar bermukim di wilayah Teheran.
Kekhawatiran Roma tidak hanya menyangkut keselamatan warga sipil. Pemerintah Italia juga menyoroti keberadaan militernya di kawasan Timur Tengah yang berdekatan dengan Iran.
"Terdapat lebih dari 900 anggota Angkatan Bersenjata Italia di kawasan ini, termasuk sekitar 500 personel di Irak dan 400 di Kuwait, di mana langkah-langkah pencegahan sedang diterapkan untuk melindungi personel militer," kata kementerian tersebut.
Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, bahkan memimpin rapat koordinasi tingkat tinggi yang melibatkan para duta besar Italia, perwakilan Kementerian Pertahanan, serta badan intelijen. Dalam forum, Italia menegaskan kembali posisi politiknya terhadap situasi di Iran.
"Posisi Italia yang secara tegas mengecam penindasan kekerasan terhadap demonstrasi serta pelanggaran serius hak asasi manusia kembali ditegaskan," bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Italia.
Spanyol juga mengambil langkah serupa. Kementerian Luar Negeri Spanyol meminta seluruh warganya yang masih berada di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut dengan memanfaatkan seluruh sarana transportasi yang tersedia. Madrid menilai ketidakstabilan tidak hanya terjadi di satu wilayah, melainkan meluas secara nasional.
"Warga Spanyol yang berada di Iran direkomendasikan untuk meninggalkan negara tersebut dengan menggunakan sarana yang tersedia," kata Kementerian Luar Negeri Spanyol dalam pembaruan imbauan perjalanannya.
Peringatan itu menambahkan, "Situasi tidak stabil di seluruh negeri. Berbagai sumber melaporkan adanya sejumlah kematian dan penangkapan terhadap para pengunjuk rasa."
Sikap keras juga ditunjukkan oleh Polandia dan Jerman. Pemerintah Polandia mengimbau warganya untuk segera meninggalkan Iran dan menyarankan agar seluruh perjalanan ke negara tersebut ditunda hingga situasi dinilai aman. Sementara itu, Jerman memperingatkan adanya risiko penahanan sewenang-wenang dan mendesak warga negaranya yang masih berada di Iran untuk segera keluar.
Rangkaian peringatan ini tidak terlepas dari dinamika geopolitik yang lebih luas. Presiden AS Donald Trump dalam beberapa hari terakhir melontarkan pernyataan keras terhadap Teheran, termasuk ancaman aksi militer apabila Iran mengeksekusi pengunjuk rasa anti-pemerintah dan para pemimpinnya. Meski demikian, Trump tidak merinci bentuk respons yang akan diambil Washington.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
Siaran Tunda Moto3 Inggris 2026! Ini Jadwal dan Link Live Streaming Veda Ega Pratama di Silverstone
Juara Piala Presiden 2026! 3 Pemain Persebaya Jalani Pemulihan Jelang Super League 2026/2027
