Riset tim Wang Kejian di Tiongkok membuka peluang padi hibrida yang mampu mempertahankan sifat unggul tanpa kebutuhan pembelian benih baru setiap musim tanam.
JawaPos.com — Para peneliti Tiongkok mencatatkan terobosan besar dalam pertanian global dengan mengembangkan padi hibrida yang dapat memperbanyak benihnya sendiri melalui biji identik, sehingga sifat unggul hasil panen tetap terjaga dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Inovasi ini dinilai berpotensi menggandakan produksi beras dunia sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap benih hibrida berbiaya tinggi. Terobosan ini dikembangkan oleh tim peneliti yang dipimpin Wang Kejian dari China National Rice Research Institute, bagian dari Chinese Academy of Agricultural Science.
Menurut laporan media setempat, varietas baru ini menggunakan proses apomiksis, yaitu biji yang dapat berkembang tanpa pembuahan, dan telah diuji selama beberapa generasi di provinsi Hainan dan Zhejiang.
Dilansir dari South China Morning Post, Kamis (8/1/2026), tim peneliti menegaskan bahwa padi hibrida baru ini berpotensi mengatasi salah satu hambatan utama dalam pengembangan padi hibrida konvensional, yakni kewajiban petani membeli benih baru pada setiap musim tanam.
Dengan kemampuan memperbanyak diri tanpa kehilangan sifat unggul, varietas ini dinilai dapat mengubah pola produksi beras secara struktural. “Jika semua petani padi dapat menanam varietas hibrida baru ini, produksi beras dunia berpotensi meningkat hingga dua kali lipat,” tulis laporan tersebut.
Selama ini, padi hibrida memang dikenal mampu menghasilkan panen jauh lebih tinggi dibanding varietas biasa. Di beberapa wilayah Afrika, misalnya, produktivitasnya bahkan dilaporkan hampir empat kali lipat. Namun, keunggulan tersebut diimbangi biaya yang sangat tinggi.
Harga benih padi hibrida konvensional dapat mencapai 200 yuan per kilogram, atau sekitar Rp 478.000 dengan kurs Rp 2.395 per yuan. Selain mahal, benih tersebut juga kehilangan sifat unggulnya pada generasi berikutnya, sehingga petani terpaksa membeli benih baru setiap tahun.
Dalam wawancara dengan China Science Daily, Wang menyebut pencapaian tersebut sebagai “pengenalan pertama sifat apomiksis ke dalam padi hibrida, sebuah terobosan dari ‘0 ke 1.’” Menurutnya, jika teknologi ini berhasil dikomersialkan, biaya benih hibrida dapat ditekan secara signifikan, dari kisaran 20 hingga 100 yuan per jin menjadi sekitar 2 hingga 5 yuan per jin, atau setara dengan harga benih padi konvensional di pasar.
Di kalangan ilmuwan pertanian, apomiksis kerap disebut sebagai “holy grail,”istilah yang merujuk pada tujuan paling ideal dalam riset tanaman karena memungkinkan sifat unggul padi hibrida dipertahankan secara berkelanjutan tanpa biaya benih yang tinggi
Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan pelopor riset padi hibrida, Yuan Longping. Tokoh yang dijuluki “Bapak Padi Hibrida” itu pernah menegaskan bahwa keberhasilan apomiksis menunjukkan “kelayakan apomiksis dalam padi hibrida, menandai terobosan signifikan … Saya berharap melihat aplikasi padi hibrida satu garis dalam produksi.”
Sejalan dengan itu, perkembangan terbaru yang dicapai tim Wang berhasil mengatasi tantangan awal dalam riset apomiksis, seperti rendahnya tingkat pembentukan biji dan efisiensi kloning. Melalui pendekatan terbaru ini, sifat unggul padi hibrida dapat dipertahankan lebih dari 99,7 persen hingga generasi berikutnya.
Pendekatan ini juga membuka peluang bagi petani kecil di negara berkembang, yang sebelumnya terkendala harga benih tinggi, untuk mengakses padi hibrida berkualitas. Para pakar pertanian menilai teknologi ini dapat mempercepat upaya global mengatasi kerawanan pangan di tengah pertumbuhan populasi yang cepat.
Namun, uji lanjutan dan regulasi masih diperlukan sebelum benih apomiktik ini diproduksi massal. Jika berhasil dikomersialkan, inovasi ini bisa menjadi tonggak sejarah pertanian modern, sejajar dengan terobosan Yuan Longping di era 1970‑an, dan menjadi salah satu peluang terbesar untuk mendukung ketahanan pangan global di tengah perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor San Marino vs Albania di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjte Menang Telak di Dogana
Prediksi Skor Filipina vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: The Azkals Menang Tipis Atas The Shaheens
Prediksi Skor Jamaika vs Honduras di CONCACAF Nations League: Reggae Boyz Menang Meyakinkan?
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Tuan Rumah Dibayangi Rapuhnya Lini Pertahanan
Prediksi Finlandia vs Belarus di UEFA Nations League: Pohjanpalo Siap Lanjutkan Ketajaman

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022