
Piramida Giza, satu-satunya Tujuh Keajaiban Dunia Kuno yang masih bertahan hingga kini (Dok. Wikimedia Commons)
JawaPos.com - Piramida Giza merupakan monumen yang berada di dataran tinggi Giza, sebuah kawasan arkeologi datar berbatu yang terletak di dekat Kairo, Mesir. Area ini mencakup tiga piramida utama yaitu, Patung Sphinx, beberapa piramida kecil (Queens Pyramids), permukiman pekerja, beberapa kompleks pemakaman, dan bangunan lain yang terkait dengan fungsi pemakaman.
Mengutip EBSCO, seluruh wilayah ini didesain sebagai kompleks pemakaman besar untuk menghormati para firaun yang memerintahkan pembangunan struktur-struktur tersebut. Di antara semua bangunan itu, Piramida Agung Giza menjadi pusat perhatian, diabadikan sejak masa kuno sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno dan satu-satunya yang masih bertahan hingga hari ini.
Para Firaun Di Balik Pembangun Piramida Giza
Menurut National Geographic, proyek pembangunan piramida pertama di Giza dimulai oleh Firaun Khufu sekitar tahun 2550 SM. Piramida Agung miliknya merupakan yang terbesar di kompleks tersebut, awalnya menjulang hingga sekitar 146 m sebelum sebagian lapisan luarnya perlahan hilang akibat termakan waktu. Struktur ini tersusun dari sekitar 2,3 juta balok batu yang masing-masing memiliki berat antara 2,5 hingga 15 ton.
Putra Khufu, Khafre, melanjutkan deretan struktur besar ini dengan membangun piramida kedua sekitar tahun 2520 SM. Piramida Khafre tampak mencolok karena terhubung dengan Patung Sphinx, sebuah monumen batu kapur berbentuk tubuh singa berkepala manusia. Sphinx, yang sebelum abad ke-19 sempat terkubur pasir selama ribuan tahun hingga menyisakan kepala saja, diduga menjadi penjaga kompleks makam tersebut meski belum ada bukti pasti bahwa Khafre yang membangunnya.
Piramida ketiga dibangun oleh Menkaure, putra Khafre, sekitar tahun 2490 SM. Ukurannya jauh lebih kecil, sekitar setengah dari tinggi dua piramida sebelumnya. Meski begitu, piramida ini memiliki struktur kompleks yang rumit dengan dua kuil, satu jalan penghubung panjang, serta tiga piramida ratu. Ruang-ruangnya dihiasi relung unik dan atap berkubah di ruang pemakamannya. Sayangnya, sarkofagus Menkaure hilang setelah kapal yang membawanya tenggelam di dekat Gibraltar pada 1838.
Fungsi Piramida Giza
Piramida berfungsi sebagai kompleks pemakaman di atas tanah yang dirancang untuk menampung roh firaun beserta barang-barang yang mereka butuhkan di alam baka. Selain menjadi tempat peristirahatan terakhir, struktur megah ini juga berfungsi untuk menunjukkan kekuatan firaun dan kemegahan Mesir Kuno kepada rakyatnya. Setiap piramida memiliki ruang pemakaman di bagian dalam yang terhubung ke luar melalui lorong panjang.
Banyak aspek struktur Piramida Agung tetap menjadi misteri hingga abad ke-21, dan penelitian baru terus dilakukan. Sejak 2016, tim ilmuwan menggunakan teknologi muography yang memanfaatkan partikel muon dari sinar kosmik, untuk mengidentifikasi rongga atau ruang tersembunyi di dalam piramida. Muon dapat menembus celah antarbatu, memungkinkan para ilmuwan mendeteksi ruang kosong dalam struktur padat seperti piramida.
Penelitian ini menemukan dua area yang sebelumnya belum diketahui, di sisi utara dan timur laut. Pada 2023, tim yang sama mengumumkan hasil lanjutan yang menunjukkan bahwa area di sisi utara memiliki panjang sekitar 9 m dan lebar lebih dari 2 m. Temuan ini, diperkuat dengan gambar dari endoskop, menjadi bukti kuat keberadaan rongga tersebut. Namun para ahli Mesir Kuno menegaskan bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan sebelum menarik kesimpulan final mengenai fungsi atau asal ruang misterius tersebut.
Metode Konstruksi yang Masih Diperdebatkan
Hingga kini belum ada jawaban pasti mengenai metode pembangunan piramida. Dilansir dari Britannica, teori yang paling diterima menyebutkan bahwa bangsa Mesir menggunakan tanggul tanah dan batu yang mengelilingi bangunan dan ditinggikan seiring bertambahnya tinggi piramida. Balok-balok batu kemudian ditarik menggunakan kereta luncur, rol kayu, dan tuas. Sejarawan Yunani kuno Herodotus mencatat bahwa pembangunan Piramida Agung memakan waktu 20 tahun dengan tenaga sekitar 100.000 pekerja.
Angka ini dianggap masuk akal jika diasumsikan para pekerja tersebut merupakan petani yang bekerja saat Sungai Nil meluap dan aktivitas pertanian berkurang. Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja mungkin jauh lebih kecil, dengan perkiraan sekitar hanya 20.000 pekerja tetap yang didukung oleh tenaga tambahan seperti tukang roti, tabib, hingga pendeta.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
