
Faruk Fatih Ozer, pendiri Thodex, bursa kripto besar di Turki bunuh diri di dalam penjara. (Gazeta Express)
JawaPos.com - Turki diguncang kabar mengejutkan dari dunia kripto. Belakangan memang, instrumen investasi yang disebut sebagai 'emas digital' itu sedang sangat berkembang di berbagai negara.
Hal tersebut membuat banyak pihak, berlomba-lomba untuk membuat bursa kripto, platform kripto dan sejenisnya untuk bisa mengikuti arus tren yang sedang berkembang. Ada yang berhasil, tak sedikit yang berakhir jadi skandal besar dan masuk bui.
Seperti di Turki, Faruk Fatih Ozer, pendiri Thodex, salah satu bursa kripto terbesar yang pernah beroperasi di negara itu, ditemukan tewas di dalam sel penjara pada Sabtu (1/11) lalu.
Ozer yang baru berusia 31 tahun itu diduga mengakhiri hidupnya sendiri, tak lama setelah dijatuhi hukuman penjara fantastis, 11.196 tahun, atas tuduhan penipuan dan pencucian uang.
Menurut pengacara Ozer, Sevgi Erarslan, kliennya belakangan tampak semakin menarik diri dari dunia luar.
“Dia bahkan menolak untuk bertemu keluarganya akhir-akhir ini. Dia mengisolasi diri, tidak mau hadir di persidangan, dan menolak pindah dari sel isolasi tunggal," ujar pengacaranya dikutip dari Bloomberg.
Erarslan juga menuding adanya kemungkinan kelalaian dari pihak penjaga penjara, yang disebutnya jarang memeriksa kondisi Ozer.
“Kalau tubuhnya ditemukan lama setelah kematian, artinya ada kelalaian dari administrasi penjara,” katanya.
Kementerian Kehakiman Turki sendiri mengonfirmasi kematian tersebut dan menyebut tidak ada tanda-tanda kekerasan atau kondisi mencurigakan, menegaskan bahwa kematian Ozer murni karena bunuh diri.
Meski begitu, kantor kejaksaan Tekirdag telah membuka penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kematiannya, sementara hasil autopsi resmi belum dipublikasikan.
Seperti sudah disinggung di atas, kasus Ozer adalah salah satu skandal kripto terbesar di Turki. Thodex, bursa yang didirikannya di Istanbul, tiba-tiba menghentikan seluruh aktivitas perdagangan pada 2021, membuat puluhan ribu investor kehilangan akses ke dana mereka.
Nilai kerugian pun masih menjadi perdebatan. Menurut perusahaan analisis blockchain Chainalysis, kerugian investor mencapai sekitar USD 2,6 miliar atau setara lebih dari Rp 41 triliun, sementara dakwaan jaksa Turki hanya menyebut angka USD 24 juta atau sekitar Rp 380 miliar.
Setelah skandal itu meledak, Ozer melarikan diri ke Albania, sebelum akhirnya diekstradisi kembali ke Turki pada 2023. Ia bersama dua saudaranya dijatuhi hukuman ribuan tahun penjara karena menjalankan organisasi kriminal dan melakukan pencucian uang.
Namun, drama hukumnya belum berakhir. Putusan itu sempat dibatalkan oleh pengadilan banding awal tahun ini, sebelum kemudian kasusnya dilanjutkan kembali oleh pengadilan tingkat bawah, kata Erarslan.
“Setelah empat setengah tahun di penjara, seharusnya saudara-saudara Ozer sudah dibebaskan,” tambahnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
