Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 Oktober 2025, 01.23 WIB

Perjalanan Panjang Timor Leste Menuju Kemerdekaan: Dari Kolonialisme Portugis hingga Konflik dengan Indonesia

Pengibaran bendera Timor Leste menjadi simbol kebanggaan dan kedaulatan bangsa setelah melalui perjuangan panjang meraih kemerdekaan (UN-Media) - Image

Pengibaran bendera Timor Leste menjadi simbol kebanggaan dan kedaulatan bangsa setelah melalui perjuangan panjang meraih kemerdekaan (UN-Media)

JawaPos.com - Timor Leste atau Timor Timur merupakan negara kepulauan yang terletak di bagian timur Kepulauan Sunda Kecil, di ujung selatan Kepulauan Melayu. Dikutip dari Britannica, negara ini menempati setengah bagian timur Pulau Timor, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Dili menjadi ibu kota sekaligus kota terbesar di negara tersebut.

Ekspansi Portugal ke Timor Timur

Melansir dari EBSCO, pada paruh kedua abad ke-15, raja-raja Eropa mulai memperluas kekuasaan dan sumber daya mereka. Bagi Portugal, perluasan ini dilakukan melalui ekspansi ke luar benua Eropa. Portugal hanya mampu mengelola sebagian kecil dari wilayah kekuasaannya di Asia, salah satunya adalah bagian timur Pulau Timor.

Para pedagang Portugis tertarik ke Timor karena kayu cendana menjadi komoditas penting dalam perdagangan dengan Tiongkok. Ketertarikan ini kemudian memicu persaingan dengan para pedagang Belanda yang juga ingin menguasai pasar cendana di Timor. 

Konflik antara keduanya berlangsung lama hingga akhirnya pada tahun 1859 ditandatangani perjanjian yang menetapkan batas wilayah Belanda dan Portugal. Sejak saat itu, wilayah barat Pulau Timor menjadi bagian dari Hindia Belanda, yang kemudian bergabung ke Indonesia setelah merdeka pada 1949.

Meskipun banyak kekuatan kolonial mulai melepaskan jajahannya pasca-Perang Dunia II, Portugal tetap bersikeras mempertahankan wilayah koloninya. Hingga akhirnya, terjadi perlawanan dari dalam negeri sendiri, dan terjadi kudeta oleh Movimento das Forças Armadas (Gerakan Angkatan Bersenjata) pada 25 April 1974.

Keberhasilan kudeta ini berdampak besar bagi masa depan Timor Timur. Perekonomian Portugal yang lemah membuat negara itu tak lagi mampu mempertahankan koloninya, termasuk Timor Timur. Meski demikian, pemerintah baru Portugal tetap berhati-hati dalam melepaskan wilayah jajahan tersebut, meskipun saat itu kondisi politik di Timor Timur relatif tenang dan belum banyak memiliki gerakan kemerdekaan yang kuat.

Bangkitnya Gerakan Politik di Timor Timur

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiga kekuatan politik mulai muncul di Timor Timur. Pertama, União Democrática de Timor (UDT) yang menginginkan kelanjutan hubungan dengan Portugal sebelum menuju kemerdekaan penuh. 

Kedua, Associação Popular Democrática de Timor (APODETI) yang justru mendukung integrasi dengan Indonesia karena menilai Timor Timur belum siap menjadi negara mandiri. 

Terakhir, Frente Revolucionaria de Timor Leste Independente (FRETILIN), yang menyerukan kemerdekaan penuh serta kebijakan luar negeri yang netral dan bebas dari campur tangan asing.

Kemunculan tiga partai ini membuat pemerintah Portugal kewalahan. Situasi semakin tegang ketika UDT melakukan kudeta pada 11 Agustus 1975, memaksa Gubernur Portugis Mario Lemos Pires meninggalkan Dili. Kudeta tersebut memicu perang saudara yang berakhir dengan kemenangan FRETILIN. 

Proklamasi Kemerdekaan Sepihak

Menurut Government of Timor Leste, pada 28 November 1975 FRETILIN bersama Perdana Menteri Xavier do Amaral secara sepihak memproklamasikan kemerdekaan Timor Leste. Nicolau Lobato ditunjuk sebagai Perdana Menteri sekaligus pemimpin pertama gerakan perlawanan bersenjata. 

Namun, kemerdekaan tidak berlangsung lama. Hal ini memicu perang saudara dan konflik dengan Indonesia. Indonesia kemudian mengumumkan wilayah itu sebagai provinsi ke-27, dengan nama Timor Timur. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore