
Ilustrasi: Perbatasan Rafah, gerbang menuju Gaza yang masih ditutup oleh Israel padahal sudah sepakat gencatan senjata. (REUTERS/Stringer).
JawaPos.com - Di tengah konflik yang belum berakhir, perbatasan Rafah Crossing antara Jalur Gaza dan Mesir kembali menjadi sorotan dunia. Bukan hanya karena nilai strategisnya, tapi juga karena perannya yang vital bagi jutaan warga Gaza yang kini hidup di bawah blokade berkepanjangan.
Perbatasan tersebut jadi perbincangan lantaran Zionis Israel tak kunjung membukanya. Padahal, pihak Mesir, sudah berupaya untuk membiarkan armada bantuan kemanusiaan dunia menuju Gaza untuk melintas jalur tersebut.
Berikut lima hal penting yang perlu diketahui tentang kondisi terbaru di perbatasan Rafah, titik kecil di peta yang kini memegang nasib besar bagi kemanusiaan.
Rafah Crossing dulunya menjadi satu-satunya jalur keluar masuk warga Gaza menuju dunia luar, terutama bagi mereka yang membutuhkan perawatan medis, pendidikan, atau keselamatan.
Namun sejak Mei 2024, militer Israel mengambil alih sisi Palestina dari perbatasan ini dengan alasan 'keamanan' dan dugaan penyelundupan senjata. Sejak saat itu, akses kemanusiaan praktis lumpuh, memutus aliran bantuan vital seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bakar.
Harapan sempat muncul pada Januari 2025, ketika gencatan senjata yang dimediasi Donald Trump memungkinkan pembukaan sementara Rafah. Beberapa warga berhasil keluar dan sejumlah truk bantuan sempat melintas.
Namun euforia itu hanya berlangsung singkat. Pemerintah Israel kemudian mengumumkan bahwa Rafah tetap ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut, menuding Hamas tidak memenuhi syarat-syarat kesepakatan, termasuk pengembalian jenazah sandera.
Mesir, Israel, dan Hamas kini terjebak dalam tarik-menarik politik. Israel menuntut kontrol penuh atas perbatasan, sementara Mesir menolak menanggung beban pengungsi tambahan.
Di tengah kebuntuan ini, ratusan truk bantuan menumpuk di kota El-Arish, Mesir, hanya beberapa kilometer dari Gaza — menunggu izin yang tak kunjung datang. Bagi penduduk Gaza, setiap hari penundaan berarti lebih sedikit makanan, air, dan listrik.
Sebagian bantuan kini dialihkan melalui pos Kerem Shalom, beberapa kilometer dari Rafah. Namun proses pemeriksaannya sangat ketat: setiap truk diperiksa satu per satu, barang diturunkan, dicek, lalu dipindahkan ke kendaraan lain untuk masuk ke Gaza.
Hasilnya, bantuan mengalir terlalu lambat. Dari target 600 truk per hari seperti yang dijanjikan dalam perjanjian gencatan senjata, hanya sebagian kecil yang berhasil masuk, sebagian besar melalui Kerem Shalom dan Kissufim.
Kini, Rafah bukan sekadar nama perbatasan, ia adalah simbol politik yang gagal dan krisis kemanusiaan yang terus dibiarkan.
Pintu yang seharusnya membawa harapan justru menjadi saksi bagaimana diplomasi internasional tidak mampu menyelamatkan nyawa warga sipil. Setiap hari, Gaza semakin terisolasi, sementara dunia hanya bisa menatap gerbang besi yang tak kunjung terbuka.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Prediksi Skor Al-Hilal vs Al-Gharafa di Liga Champions Asia: Gabriel Martinelli Cetak Gol Lagi!
Prediksi Genoa vs Sudtirol: Rotasi De Rossi Jadi Sorotan, Laga Coppa Italia Bisa Berlangsung Sengit
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Osasuna di Liga Spanyol: Los Colchoneros Menang di Metropolitano

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022